Rektor UIN Siber Cirebon Ajak Maknai Hari Buruh sebagai Ruang Refleksi dan Keadilan Kerja

CIREBON, HOLOPIS.COM – Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof Aan Jaelani, mengajak seluruh elemen kampus untuk memaknai Hari Buruh Internasional sebagai momentum refleksi yang lebih mendalam, tidak sekadar seremoni tahunan.

Dalam pernyataannya, Aan Jaelani menilai bahwa peringatan Hari Buruh seharusnya menjadi ruang perenungan mengenai makna kerja, tidak hanya sebagai aktivitas rutin, tetapi juga sebagai bentuk ibadah, pengabdian, dan kontribusi nyata bagi kemajuan bersama.

– Advertisement –

“Setiap 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional sebagai momentum refleksi atas peran pekerja dalam menggerakkan peradaban. Di lingkungan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Hari Buruh semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi ruang perenungan tentang makna kerja sebagai ibadah, pengabdian, sekaligus kontribusi nyata bagi kemajuan bersama,” tulis Prof Aan dalam rilisnya, Jumat (1/5/2026).

Secara tidak langsung, ia menegaskan bahwa seluruh elemen di lingkungan perguruan tinggi, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, merupakan bagian dari ekosistem pekerja intelektual yang memiliki tanggung jawab besar.

– Advertisement –

Menurutnya, peran tersebut tidak hanya sebatas menghasilkan capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter, merawat nilai-nilai, serta mempersiapkan masa depan umat.

Namun demikian, Prof Aan Jaelani menyoroti bahwa pemahaman terhadap ekosistem kerja di kampus masih sering dipandang secara sempit. Ia mengingatkan bahwa keberlangsungan aktivitas kampus juga sangat bergantung pada peran tenaga non-akademik, seperti petugas kebersihan dan keamanan.

“Kerja kampus tidak hanya ditopang oleh tenaga pendidik dan kependidikan. Ada peran penting tenaga kebersihan dan keamanan yang, meski berstatus outsourcing, menjadi fondasi keberlangsungan aktivitas kampus,” ujarnya.

Ia menggambarkan kelompok pekerja tersebut sebagai sosok yang kerap luput dari perhatian, meskipun kontribusinya sangat vital dalam menciptakan lingkungan belajar yang bersih, nyaman, dan aman.

“Mereka adalah penjaga sunyi yang sering luput dari sorotan. Ruang belajar yang bersih, lingkungan yang nyaman, serta rasa aman di kampus adalah hasil kerja mereka yang konsisten dan penuh tanggung jawab,” lanjutnya.

Dalam konteks itu, Prof Aan menekankan pentingnya menjadikan Hari Buruh sebagai momentum untuk menegaskan prinsip keadilan dan penghargaan bagi seluruh pekerja, tanpa memandang status maupun peran.

Ia menilai bahwa setiap individu di lingkungan kampus layak mendapatkan pengakuan yang setara, karena nilai kerja tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh kontribusi dan integritas.

“Setiap elemen pekerja di kampus layak mendapatkan pengakuan yang setara, tanpa sekat status maupun peran. Kemuliaan kerja tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh kontribusi dan integritas dalam menjalankan amanah,” tandasnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti perubahan makna kerja di tengah transformasi menuju kampus berbasis siber. Menurutnya, tuntutan kerja saat ini tidak hanya sebatas kerja keras, tetapi juga kerja cerdas, adaptif, dan inovatif.

Aan Jaelani menegaskan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat nilai kerja, bukan justru menghilangkan dimensi kemanusiaan di dalamnya.

“Tidak cukup hanya bekerja keras, tetapi juga dituntut bekerja cerdas, adaptif, dan inovatif. Teknologi semestinya menjadi penguat nilai kerja, bukan mengikis dimensi kemanusiaan di dalamnya,” jelas Prof Aan.

Ia juga mengajak seluruh civitas akademika untuk memperkuat etos kerja unggul yang berlandaskan integritas, profesionalisme, kolaborasi, dan saling menghargai.

Menurutnya, kampus ideal bukan hanya tempat menghasilkan kinerja, tetapi juga ruang yang memuliakan setiap individu yang berkontribusi di dalamnya.

“Kampus ideal bukan hanya ruang produksi kinerja, tetapi juga ruang yang memuliakan setiap insan yang berkontribusi di dalamnya,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Aan Jaelani menegaskan bahwa kerja sejatinya merupakan jalan pengabdian yang memiliki nilai luhur dalam membangun peradaban.

Melalui momentum Hari Buruh, ia berharap nilai-nilai keadilan, penghargaan, dan kemanusiaan semakin menguat di lingkungan kampus, sehingga mampu melahirkan institusi pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga humanis dan berdaya saing global.

“Pada akhirnya, kerja bukan sekadar rutinitas, melainkan jalan pengabdian. Dari kerja yang tulus dan kolaboratif, lahir peradaban yang bermartabat,” pungkas Prof Aan.

– Advertisement –

Leave a Comment