Penertiban Dinilai Tebang Pilih, Warga Puncak Bogor Sebut Asep Stroberi sebagai Simbol Ketidakadilan – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Keberadaan restoran Asep Stroberi di jalur Puncak Bogor kembali menuai kritik dari warga, terutama para pedagang kaki lima (PKL) yang terdampak penertiban.

Mereka menilai pemerintah tidak adil karena bangunan usaha besar tersebut masih berdiri “Gagah” di jalur puncak.

Korban PKL yang tergusur, Novi (52) menilai penertiban seharusnya dilakukan tanpa tebang pilih, baik terhadap pedagang kecil maupun pemilik usaha besar.

Baca Juga:Kios Digusur, Restoran Asep Stroberi Dibiarkan, Pemprov Jabar Tebang Pilih? Pengamat Nilai Sanksi untuk Restoran Asep Stroberi Tebang Pilih: Tidak Konsisten!

“Kalau Masalah bicara ketidakadilan ya sangat tidak adil, sementara kami dibolak balikan sedangkan asep stroberi berdiri kokoh,” sindir dia saat ditemui Jabar Eskpres pada Jumat (24/4/26).

“Ya kalau masalah ketidakpuasan sangat tidak puas, seharusnya kan nggak tebang pilih, mau itu misalkan rakyat jelata, mau itu orang bonafit lah, mau apapun itu ya seharusnya kan semua sama,” tegasnya.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa para PKL hanya berupaya bertahan hidup dari hasil berdagang sehari-hari.

Novi berharap pemerintah segera mengambil langkah tegas dan adil terhadap semua pelanggaran, tanpa membedakan latar belakang pelaku usaha.

Ia menegaskan, keadilan menjadi hal utama yang diharapkan masyarakat kecil dalam kebijakan penertiban ini.

“Tunjukin aja keadilan gitu aja, karena apa? Karena masyarakat miskin ini kan punya peran penting untuk mereka semua (pejabat pemerintah),” tandasnya.

Untuk diketahui, Restoran Asep Stroberi diduga melanggar Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang telah diterbitkan pemerintah daerah. Namun hingga kini, bangunan tersebut belum ditertibkn.

Baca Juga:Incar Peluang Besar, Danantara Bidik Investasi Energi ke Singapura Senilai 30 Miliar DolarPolisi Gerebek Rumah di Cileungsi yang Diduga Penampungan PMI Ilegal, 2 Korban Diselamatkan

Padahal, Pemerintah Kabupaten Bogor sebelumnya telah melakukan penataan Puncak dengan menertibkan sejumlah bangunan yang dianggap melanggar aturan demi mengembalikan keasrian kawasan wisata.

Ketimpangan penertiban ini sempat memicu ketegangan pada aksi pembongkaran tahap kedua, Senin (26/8/25) lalu.

Warga dan pedagang menghadang alat berat di depan restoran Asep Stroberi, bahkan melempar telur sebagai bentuk protes agar bangunan tersebut turut ditertibkan.

Reporter: Dzihar

Leave a Comment