HOLOPIS.COM, JAKARTA – Upaya meredakan konflik di Timur Tengah memasuki fase krusial. Di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan kelompok bersenjata Hizbullah, Emmanuel Macron bersama Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyerukan percepatan jalur diplomasi.
Pertemuan di Istana Élysée, Paris, menjadi titik penting untuk memperkuat gencatan senjata yang dinilai masih rapuh. Kedua pemimpin sepakat bahwa negosiasi adalah satu-satunya jalan untuk mencegah konflik meluas.
– Advertisement –
“Kita harus memberi waktu untuk negosiasi dan tidak membiarkan perang berlanjut,” kata Macron dikutip dari AP, Rabu, (22/4/2026).
Ia menegaskan bahwa stabilitas kawasan hanya bisa dicapai melalui langkah konkret. Hal itu termasuk penarikan militer Israel dari wilayah Lebanon serta pelucutan senjata Hezbollah.
– Advertisement –
Di sisi lain, Nawaf Salam menegaskan bahwa Lebanon tetap memilih jalur diplomasi, namun dengan syarat yang jelas dan tidak bisa ditawar.
“Kami terus menempuh jalan ini, yakin bahwa diplomasi bukanlah tanda kelemahan tetapi tindakan yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Namun, ia juga menegaskan garis merah yang harus dipenuhi. “Tidak akan ada stabilitas yang langgeng tanpa penarikan Israel sepenuhnya,” tutur Nawaf.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Beirut tak ingin sekadar gencatan senjata sementara. Namun, melainkan solusi jangka panjang yang menjamin kedaulatan wilayahnya.
Ketegangan meningkat sejak Hizbullah meluncurkan serangan roket ke Israel pada awal Maret 2025 sebagai simpati membela Iran. Aksi tersebut dibalas dengan operasi militer besar-besaran oleh Israel, termasuk pemboman dan invasi darat.
Situasi semakin kompleks setelah pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) diserang. Insiden itu menewaskan satu personel asal Prancis dan melukai tiga lainnya.
Macron menegaskan Prancis siap mempertahankan kehadiran militernya dalam misi internasional tersebut, bahkan membuka peluang pembentukan pasukan lanjutan bersama mitra global.
Negosiasi Global Ikut Berpengaruh
Dinamika konflik Lebanon-Israel juga tidak lepas dari perkembangan geopolitik yang lebih luas, termasuk hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Rencana perundingan baru antara AS dan Iran di Pakistan masih belum pasti setelah JD Vance membatalkan kunjungan, sementara Iran belum memastikan keikutsertaannya.
Di sisi lain, Lebanon dan Israel dijadwalkan melanjutkan pembicaraan langsung di Washington. Rencana itu sebagai langkah langka setelah puluhan tahun tanpa dialog terbuka.
– Advertisement –