ICON-IMAD XV 2026 Dorong Eko-Teologi dan Kolaborasi Riset Global untuk Menjawab Krisis Lingkungan – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Krisis lingkungan global yang semakin kompleks menuntut hadirnya paradigma baru dalam pendidikan, riset, dan pembangunan masyarakat. Pesan tersebut menjadi benang merah dalam Research Workshop 15th International Conference on Islam in the Malay World (ICON-IMAD XV) 2026 yang diselenggarakan melalui kolaborasi Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (APIUM), di Hotel Ibis Bandung, Senin, 27 Juli 2026.

Forum internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan pengambil kebijakan dari Indonesia dan Malaysia untuk mendiskusikan berbagai tantangan global, mulai dari krisis ekologi, perubahan geopolitik dunia, hingga pentingnya memperkuat jejaring riset internasional dalam perspektif keislaman.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D., yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa persoalan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan teknologi atau pengelolaan sumber daya alam.

Baca Juga:Telkomsel Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Lewat Gladian PANJI TERRA, Cetak Relawan Muda yang TangguhPeduli Bencana Kampung Adat Ciptamulya, BRI Region 9 Bandung Salurkan Bantuan Logistik & Survival Kit Bersama

“Akar dari krisis lingkungan ini bukan sekadar teknis, melainkan krisis spiritual—desakralisasi alam di mana manusia tidak lagi selaras dengan nilai keilahian. Kita harus mengubah paradigma pendidikan dari antroposentrisme menuju Theo-Eco-Centrism,” tegas Prof. Atip.

Prof. Atip mengingatkan bahwa ancaman perubahan iklim semakin nyata. Mengutip berbagai data global, ia menyampaikan bahwa sekitar 34 persen penduduk Asia Tenggara diperkirakan akan menghadapi krisis air pada tahun 2050, sementara Indonesia berpotensi mengalami kerugian ekonomi hingga Rp1.576 triliun akibat banjir rob di hampir 200 wilayah pesisir. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut perubahan mendasar dalam sistem pendidikan.

Untuk itu, ia menawarkan empat langkah strategis, yakni mengintegrasikan Fiqih Lingkungan (Fiqh al-Bi’ah) ke dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam, mengembangkan pembelajaran berbasis tadabbur alam, menjadikan sekolah dan pesantren sebagai eco-institutions, serta memanfaatkan media digital sebagai sarana penyebaran nilai-nilai eko-teologi kepada Generasi Z dan Alpha.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed., yang menilai bahwa model pendidikan yang memisahkan agama, sains, dan lingkungan sudah tidak lagi relevan dalam menghadapi tantangan abad ke-21.

Leave a Comment