
JABAR EKSPRES – Di sebuah ruang kelas MIN 1 Kota Banjar, suasana belajar mengajar berlangsung seperti biasa. Namun, ada yang istimewa di balik kegiatan tersebut. Seorang guru dengan disabilitas netra atau tunanetra terlihat lincah berinteraksi dengan para siswa, membimbing mereka dengan penuh semangat dan metode khusus.
Guru tersebut adalah Lulu Imas Fufah, seorang aparatur sipil negara (ASN) yang mengajar mata pelajaran Guru Kelas di madrasah tersebut. Meskipun tidak bisa melihat, Lulu Imas Fufah membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya dan mencerdaskan anak bangsa.
Dengan berbekal laptop yang dilengkapi screen reader—perangkat lunak pembaca layar—serta ingatan yang tajam, ia mampu menyampaikan materi pelajaran dengan jelas dan penuh antusiasme. Ia juga hafal nama setiap siswanya hanya dari suara mereka.
Baca Juga:Gagal Live Tawuran di Medsos, 3 Remaja Ditangkap Polisi di Parung BogorSuku Bunga Tinggi Gerus Minat Investasi Emas, Harga Acuan Ekspor Terkoreksi
“Keterbatasan ini justru menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkarya. Saya ingin menunjukkan kepada siswa bahwa tidak ada kata tidak bisa jika kita mau berusaha. Saya mendengar, saya hafal, dan saya transfer ilmu itu kepada anak-anak,” ujar Lulu Imas Fufah, Rabu (17/6/2026).
Plt. Kepala MIN 1 Kota Banjar, Marsimin, mengaku bangga memiliki guru dengan dedikasi tinggi seperti Lulu Imas Fufah. Menurutnya, meskipun memiliki kebutuhan khusus, Lulu Imas Fufah mampu beradaptasi dengan cepat dan menggunakan metode pembelajaran yang kreatif, seperti lebih mengandalkan media audio dan diskusi lisan yang interaktif.
“Dia adalah inspirasi bagi kami semua. Awalnya mungkin ada kekhawatiran, namun faktanya dia mampu mengelola kelas dengan sangat baik. Para siswa justru sangat antusias dan memiliki empati serta rasa hormat yang tinggi. Ini bukti bahwa madrasah inklusif bukan hanya wacana,” tegas Marsimin.
Salah satu siswi, Dina Lailatul Haniyah, mengaku awalnya kaget namun kini sangat mengagumi gurunya.
“Ibu Lulu Imas Fufah mengajarnya asyik. Beliau hafal nama kita semua hanya dari suara. Kami jadi lebih semangat belajar karena melihat perjuangan beliau,” ungkapnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjar, H. Ahmad Fikri Firdaus, mengatakan kisah Lulu Imas Fufah ini menjadi bukti nyata komitmen Kementerian Agama dalam mendorong keterwakilan penyandang disabilitas di lingkungan ASN serta mewujudkan madrasah yang ramah dan inklusif bagi semua.