
JABAR EKSPRES – Kasus dugaan penyekapan dan kekerasan yang dilakukan Taufik Hidayat terhadap seorang perempuan di Kota Bandung menyita perhatian publik. Selain menimbulkan dampak fisik, peristiwa tersebut juga dinilai berpotensi meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi korban.
Psikolog PT Martasandy Psychology Indonesia, Amaliyah Nur Azizah, M.Psi., Psikolog menjelaskan, korban yang mengalami penyekapan dan kekerasan dalam waktu lama umumnya hidup dalam kondisi penuh ancaman sehingga otak dan tubuh terus berada dalam keadaan siaga.
“Akibatnya, korban dapat kehilangan rasa aman, mengalami penurunan kepercayaan diri, kesulitan mempercayai orang lain, serta merasa tidak lagi memiliki kendali atas hidupnya. Dalam kondisi tersebut, fokus korban bukan lagi mencari jalan keluar, melainkan bertahan hidup dari hari ke hari,” ujarnya, Rabu (24/6).
Baca Juga:Pria Lansia di Gunung Putri Bogor Ditemukan Tewas, Diduga Tak Kuat Kehilangan IstriPemkab Bogor Cek 81 Kendaraan Dinas, Lelang Jadi Opsi untuk Unit Tak Layak
Menurut Amaliyah, kondisi tersebut merupakan bentuk adaptasi psikologis terhadap situasi ekstrem, bukan tanda kelemahan korban.
Senada, psikolog PT Martasandy Psychology Indonesia, Matsal Machmud Sriandono, S.Psi mengatakan trauma berkepanjangan dapat memicu gangguan psikologis yang lebih kompleks.
“Korban yang mengalami penyekapan dan kekerasan dalam waktu lama sering mengalami trauma psikologis yang kompleks. Penelitian menunjukkan trauma yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan Complex PTSD atau C-PTSD, yaitu kondisi yang ditandai kesulitan mengelola emosi, pandangan negatif terhadap diri sendiri, dan kesulitan membangun hubungan dengan orang lain,” jelasnya.
Setelah berhasil keluar dari situasi kekerasan, korban juga berisiko mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD), depresi, kecemasan, hingga gangguan tidur. Namun para psikolog mengingatkan bahwa diagnosis hanya dapat ditegakkan melalui asesmen profesional yang komprehensif.
Direktur PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy, menilai perhatian publik seharusnya tidak hanya tertuju pada kronologi kasus, tetapi juga pada proses pemulihan korban.
“Korban membutuhkan rasa aman terlebih dahulu sebelum dapat memulai proses pemulihan psikologis. Dukungan keluarga, lingkungan sosial, dan pendampingan profesional menjadi faktor penting agar korban dapat membangun kembali kepercayaan diri dan rasa kendali atas hidupnya,” kata Billy.
Ia menambahkan, masyarakat perlu menghindari sikap menyalahkan korban karena dapat memperburuk kondisi psikologis yang sedang dihadapi.