
JABAR EKSPRES – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung menetapkan status tanggap darurat bencana banjir selama 14 hari, terhitung sejak 17 hingga 30 April 2026, menyusul meluasnya dampak banjir di sejumlah wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung, Wahyudin, mengatakan penetapan status tersebut dilakukan karena kondisi banjir yang sebelumnya sporadis kini berkembang menjadi lebih masif dan meluas.
“Iya hari kemarin tanggal 17. Sampai tanggal 30 April, 2 minggu atau 14 hari,” ujar Wahyudin, Minggu (19/4/2026).
Baca Juga:Dadang Supriatna Pimpin Rakor Pentahelix, Penanganan Banjir Sungai Cisunggalah Didorong KolaboratifBanjir Bandang Terjang Cigudeg Bogor, Ratusan Warga Terdampak
Ia menjelaskan, sejak awal tahun 2026, banjir sebenarnya sudah terjadi di hampir 29 kecamatan, namun dengan skala kecil dan tersebar.
Dalam dua minggu terakhir, intensitas dan cakupan banjir meningkat signifikan hingga berdampak pada sekitar 13 kecamatan.
“Sebelumnya kan masih sporadis, terjadi di sini, terjadi di sana. Nah sekarang hampir mencakup, dua minggu ke belakang itu yang terjadi di Margahayu, Margaasih, hampir 13 kecamatan,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi dasar kuat bagi pemerintah daerah untuk menetapkan status tanggap darurat agar penanganan bisa dilakukan secara lebih terkoordinasi dan terintegrasi.
“Kalau sebelumnya penanganannya belum terintegrasi. Dengan pernyataan tanggap darurat, jadi orang tuh ada kepastian,” jelasnya.
Selain itu, status tanggap darurat juga menjadi landasan bagi berbagai pihak, baik dari pemerintah provinsi, pusat, maupun instansi lainnya untuk terlibat dalam penanganan bencana.
“Kalau mau membantu dari instansi lain bisa ada dasarnya, karena sudah ada pernyataan Bupati bahwa Kabupaten Bandung tanggap darurat,” ujarnya.
Baca Juga:KDS Tegaskan Program Pentahelix Bisa Mengantisipasi Masalah Kebencanaan Banjir Cucun Soroti Nasib Petani Terdampak Banjir Bandung, Dorong Asuransi hingga Pendataan Menyeluruh
Wahyudin menambahkan, saat ini kondisi banjir di sebagian wilayah mulai berangsur surut. Namun, masih terdapat lima kecamatan yang menjadi fokus penanganan, yakni Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Solokanjeruk, dan Rancaekek.
“Sekarang yang tersisa mungkin tinggal lima kecamatan,” katanya.
Upaya penanganan dilakukan secara bertahap, terutama di wilayah yang airnya mulai surut, seperti penyedotan genangan, pembersihan lumpur, hingga pemulihan lingkungan terdampak.
“Yang mulai ada penyusutan biasanya butuh alat sedot, penyemprotan lumpur, pengangkatan seperti itu,” jelasnya.
Sementara itu, untuk wilayah yang masih tergenang, beberapa titik yang terpantau antara lain di Rancaekek, Dayeuhkolot, Baleendah, Solokanjeruk, dan Bojongsoang, meskipun sebagian lokasi sudah menunjukkan penurunan debit air.