Tahukah Kamu? Bung Tomo Satu-Satunya Jemaah Haji yang Jenazahnya Bisa Dipulangkan dari Arab Saudi

JAKARTA, Holopis.com – Bung Tomo jadi satu-satunya jemaah haji Indonesia yang jenazahnya berhasil dipulangkan dari Arab Saudi setelah wafat di Tanah Suci.

Ada satu aturan yang selama ini berlaku tegas di Arab Saudi terkait jemaah haji yang wafat di Tanah Suci yaitu jenazah tidak boleh dipulangkan ke negara asal.

Semua jemaah yang meninggal dunia akan dimakamkan di Makkah atau Madinah sesuai prosedur yang telah ditetapkan pemerintah setempat.

Namun, di balik aturan yang ketat itu, tersimpan satu kisah yang luar biasa dan nyaris tak terulang.

Adalah Sutomo atau yang lebih dikenal sebagai Bung Tomo, tokoh Pahlawan Nasional Indonesia, yang menjadi satu-satunya jemaah haji asal Indonesia yang jenazahnya berhasil dipulangkan ke Tanah Air.

Kisah ini juga dicatat dalam buku “Bung Tomo: Peran dan Sumbangsihnya bagi Indonesia” karya Raka Saliraning Gati yang diterbitkan DIVA Press (2024).

Buku tersebut menegaskan bahwa proses pemulangan jenazah Bung Tomo merupakan salah satu peristiwa paling langka dalam sejarah haji Indonesia, bahkan hingga kini belum pernah terulang lagi dengan kasus serupa.

Peristiwa itu terjadi pada 7 Oktober 1981. Saat itu Bung Tomo tengah menjalani ibadah haji dan berada di momen puncak wukuf di Arafah.

Di usia 61 tahun kurang empat hari, sang orator revolusi itu menghembuskan napas terakhir di Tanah Suci, sekitar 30 tahun setelah namanya melegenda dalam Pertempuran Surabaya.

Secara otomatis, sesuai aturan yang berlaku di Arab Saudi, jenazah Bung Tomo seharusnya dimakamkan di Makkah.

Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Upaya diplomatik dilakukan untuk melobi pemerintah Arab Saudi agar jenazah Bung Tomo dapat dipulangkan ke Indonesia.

Proses ini tidak mudah, karena menyangkut aturan keagamaan, protokol negara, hingga diplomasi tingkat tinggi.

Pada Oktober 1981, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerima surat dari Bambang Sulistomo, putra Bung Tomo, yang meminta pandangan terkait pemindahan jenazah ayahnya dari Tanah Suci ke Indonesia.

Komisi Fatwa MUI kemudian menggelar rapat dan mengeluarkan sejumlah pertimbangan.

Dalam pandangannya, MUI menyebut bahwa secara umum ulama tidak membolehkan pemindahan jenazah yang telah dimakamkan, kecuali ada alasan syar’i tertentu.

Namun, ada pula pandangan mazhab yang membolehkan pemindahan demi kemaslahatan, seperti memudahkan ziarah atau pemakaman keluarga.

MUI juga menekankan agar keputusan lanjutan dikonsultasikan dengan pemerintah, mengingat proses ini menyangkut hubungan antarnegara dan biaya besar yang harus dipertimbangkan.

Setelah pertimbangan keagamaan, proses diplomasi pun berlanjut.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan berbagai instansi terkait berkoordinasi dengan pemerintah Arab Saudi untuk mencari solusi terbaik.

Duta Besar RI di Arab Saudi ikut turun tangan membantu pengurusan administrasi dan komunikasi lintas negara.

Tidak hanya itu, putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo, bahkan ikut terbang ke Arab Saudi bersama dua dokter forensik untuk memastikan proses identifikasi jenazah berjalan dengan benar.

Salah satu tokoh penting dalam proses ini adalah Mohammad Natsir, yang saat itu memiliki pengaruh di Liga Muslim Dunia (Rābiṭat al-ʿĀlam al-ʾIslāmī).

Ia disebut turut mengirimkan surat kepada Raja Arab Saudi agar pemindahan jenazah Bung Tomo dapat dipertimbangkan secara khusus.

Setelah proses panjang dan penuh pertimbangan, permohonan Indonesia akhirnya dikabulkan.

Delapan bulan setelah wafat, jenazah Bung Tomo akhirnya dipulangkan ke Tanah Air.

Setibanya di Indonesia, Bung Tomo dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel Rejo, Surabaya.

Pemakaman itu menjadi momen haru sekaligus bersejarah, karena menjadikannya satu-satunya jemaah haji Indonesia yang jenazahnya berhasil dipulangkan dari Arab Saudi.

Fenomena ini menjadi sangat unik karena hingga kini, kebijakan umum Arab Saudi tetap tidak mengizinkan pemulangan jenazah jemaah haji.

Mayoritas jemaah yang wafat di Tanah Suci dimakamkan di lokasi pemakaman khusus yang telah disiapkan.

Kini, puluhan tahun setelah peristiwa itu, kisah Bung Tomo di Tanah Suci masih terus dikenang.

Tidak hanya sebagai bagian dari sejarah haji Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu momen paling langka yang pernah terjadi dalam hubungan Indonesia dan Arab Saudi.

Leave a Comment