Syifa Hadju Bongkar Drama Persiapan Nikah, Ngaku Overthinking Tiap Malam Jelang Hari Bahagia

HOLOPIS.COM, Jakarta – Menjelang hari bahagia, Syifa Hadju mengaku dihantui overthinking tiap malam. Persiapan pernikahan yang awalnya terasa rapi mendadak berubah jadi penuh drama dan kejutan.

Menjelang hari bahagia, Syifa Hadju akhirnya buka-bukaan soal dinamika persiapan pernikahannya dengan El Rumi.

– Advertisement –

Dalam perbincangan di kanal YouTube C8 Podcast program Bicara bersama Sara Wijayanto, Syifa mengaku proses menuju pernikahan tak selalu mulus seperti yang terlihat di luar.

Di awal wawancara, Syifa yang kini memasuki usia 26 tahun tampak santai, tapi di balik itu tersimpan cerita yang cukup padat.

– Advertisement –

Ia mengungkap sudah mulai mempersiapkan pernikahan sejak hampir satu tahun lalu.

“Aku tuh awalnya mikirnya kayak aku kan orangnya planner banget… untuk pernikahan ini sebenarnya aku udah nyiapinnya tuh dari hampir setahun,” ujar Syifa.

Namun rencana yang disusun rapi ternyata tak selalu berjalan sesuai ekspektasi.

Saat hari semakin dekat, justru muncul banyak hal kecil yang luput dari perhatian.

“Tiba-tiba kayak pas udah dekat-dekat malah kayak, ‘Hah, kok ternyata banyak yang belum aku urusin ya?’ yang perintilan-perintilan itu banyak miss-nya,” lanjutnya.

Ia juga mengaku baru memahami ritme kerja vendor pernikahan yang seringkali baru berjalan intens di waktu mendekati hari-H.

“Vendor-vendor itu lebih efektif bekerja di mepet-mepet. Jadi walaupun kita start early, nanti prosesnya tetap mepet juga,” katanya.

Yang paling terasa, menurut Syifa, adalah perubahan pada kondisi mentalnya.

Ia yang biasanya mudah tidur, kini justru sering terjaga karena pikirannya terus berjalan.

“Sekarang tuh aku kayak tiap malam… enggak pernah bisa berhenti mikir. Otaknya kayak ada aja, ‘ini udah belum ya?’ akhirnya kebangun, megang handphone lagi, ngechat orang lagi,” ungkapnya.

Kesibukan ini juga membuat Syifa harus mengurangi aktivitas di dunia hiburan. Ia memilih fokus penuh pada persiapan pernikahan.

“Aku lagi vakum syuting… karena aku ngerasa kayaknya aku enggak bisa juggling antara syuting yang setiap hari sama preparing wedding,” jelasnya.

Momen Lamaran

Tak hanya soal persiapan, Syifa juga mengenang momen lamaran yang terjadi di Swiss. Ia menyebut momen tersebut datang tanpa ekspektasi besar.

Saat itu, mereka sedang melakukan sesi foto prewedding. Syifa mengaku tidak menyangka akan dilamar secara langsung di lokasi tersebut.

“Aku tuh enggak kepikiran dia mau ngelamar aku di mana… terserah aja deh,” katanya.

Namun suasana berubah saat sesi foto berlangsung di tengah cuaca dingin. Arahan dari fotografer justru menjadi awal dari momen tak terlupakan itu.

“Pas aku balik badan, aku kayak… antara kedinginan sama syok. Ngeliat dia tuh udah speechless, terus dia bilang ‘will you marry me’ sambil nangis,” tutur Syifa.

Ia pun langsung menyadari bahwa momen tersebut benar-benar serius.

“Aku kayak, ini beneran aku dilamar gitu,” tambahnya.

Syifa juga mengungkap bahwa sebelum momen tersebut, El Rumi sebenarnya sudah lebih dulu melamar secara formal kepada orang tuanya.

Fokus Hal-hal Detail

Dalam proses persiapan, Syifa dan El memilih untuk banyak mengurus sendiri detail pernikahan mereka. Ia menyebut hanya melibatkan keluarga dalam hal-hal tertentu.

“Mostly emang kita berdua doang sih yang ngurusin semuanya, every little detail,” katanya.

Meski begitu, ia tetap melibatkan sang ibu dalam beberapa keputusan penting, terutama karena kedekatan mereka.

“Kalau ibu, aku involvin karena aku butuh pendapat… menurut ibu gimana,” ujarnya.

Syifa juga menegaskan bahwa restu orang tua menjadi hal utama sebelum mereka benar-benar melangkah ke jenjang pernikahan.

“Aku ngerasa ridha dan restu orang tua itu penting banget untuk memulai sesuatu,” ucapnya.

Menariknya, di tengah segala kesibukan dan tekanan, Syifa memilih untuk tidak terlalu kaku dalam merencanakan masa depan setelah menikah.

“Kalau plan sih ada, tapi kita kayak let it flow aja… karena di pernikahan suka ada kejutan,” katanya.

Ia menyadari bahwa kehidupan rumah tangga bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan perjalanan yang akan terus berkembang.

Dengan segala cerita yang ia bagikan, satu hal yang terasa jelas—di balik gemerlap persiapan pernikahan, ada sisi manusiawi yang jarang terlihat. Rasa cemas, lelah, hingga overthinking jadi bagian dari perjalanan menuju hari bahagia.

Namun Syifa tampak tetap mantap melangkah, dengan harapan sederhana untuk masa depan bersama.

“Semoga ini adalah pernikahan yang bisa membawa kita ke kebahagiaan… dan bisa saling jadi rumah satu sama lain,” tutupnya.

– Advertisement –

Leave a Comment