HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan kesiapan negaranya untuk berkontribusi secara militer dalam mengamankan Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia. Pernyataan ini muncul setelah tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin di Berlin, Merz menekankan bahwa solusi diplomatik tetap menjadi kunci utama untuk menciptakan perdamaian jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
– Advertisement –
“Kami sepakat bahwa tidak akan ada perdamaian abadi di kawasan ini tanpa solusi diplomatik. Ini membutuhkan kesepakatan yang layak dan kuat. Dalam konteks ini, harus jelas bahwa program nuklir militer Iran harus dihentikan. Iran tidak boleh memperoleh bom nuklir,” katanya dikutip Holopis.com dari Anadolu, Jumat (17/4/2026).
Meski menyatakan kesiapan, Merz menegaskan bahwa partisipasi militer Jerman tidak akan dilakukan sembarangan. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi, termasuk adanya gencatan senjata yang stabil serta landasan hukum internasional.
– Advertisement –
“Pada prinsipnya, kami siap untuk berpartisipasi dalam mengamankan jalur transit. Ini membutuhkan penghentian permusuhan. Setidaknya, dibutuhkan gencatan senjata sementara,” katanya kepada wartawan.
Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan militer Jerman harus mendapatkan mandat hukum internasional, idealnya dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebelum dibawa ke persetujuan parlemen nasional.
“Kita masih jauh dari itu,” tegas Merz.
Rencana ini akan dibahas lebih lanjut dalam pertemuan penting di Paris yang dipimpin Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Merz menolak mengomentari laporan media terkait persiapan kapal penyapu ranjau oleh angkatan laut Jerman. Ia menegaskan bahwa detail misi dan kontribusi Jerman masih akan dibicarakan dalam forum tersebut.
Langkah Jerman ini menunjukkan meningkatnya perhatian global terhadap stabilitas Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia. Ketegangan di kawasan ini pun masih menjadi sorotan internasional, meski gencatan senjata telah tercapai.
– Advertisement –