
JABAR EKSPRES – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dinilai menjadi sinyal semakin beratnya tekanan fiskal yang dihadapi pemerintah di tengah gejolak harga energi global dan tingginya beban subsidi energi.
Pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, menilai penyesuaian harga Pertamax sebenarnya sudah diperkirakan terjadi sejak beberapa waktu lalu.
“Secara ekonomi, harga BBM memang harus naik karena harga minyak dunia juga bergejolak,” katanya, Rabu (10/6).
Baca Juga:Sudah Beraksi 10 Kali, Komplotan Curanmor Asal Cipatujah Dibekuk Polisi!21 Dapur MBG di Tasikmalaya Masih Berhenti, Satu SPPG Kena Suspen Akibat Sarpras Tak Memadai
Menurutnya, dibandingkan sejumlah BBM nonsubsidi lainnya seperti Dexlite dan Pertamax Turbo yang telah lebih dahulu mengalami penyesuaian harga, Pertamax relatif lebih lama dipertahankan pada level sebelumnya.
Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan adanya upaya pemerintah menahan dampak kenaikan harga energi melalui kebijakan fiskal.
“Saya kira juga Pertamax sebelumnya ditahan harganya karena memang diharapkan tidak menimbulkan gejolak di masyarakat,” cetusnya.
Acuviarta menilai pemerintah saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan anggaran negara. Di satu sisi, pemerintah masih harus mempertahankan subsidi untuk BBM tertentu seperti Pertalite. Di sisi lain, kenaikan harga energi global terus meningkatkan beban belanja negara.
“Jadi karena beban untuk menahan BBM yang bersubsidi terutama Pertalite besar, sekarang Pertalite masih dipertahankan,” kata dia.
Ia menjelaskan, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semakin meningkat seiring ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas energi.
“Ketika harga-harga dunia naik, otomatis beban fiskal juga bertambah. APBN menjadi semakin tertekan. Untuk menjaga defisit tetap terkendali, pemerintah harus melakukan penyesuaian terhadap sejumlah pengeluaran,” ungkapnya.
Baca Juga:Anggaran Belum Masuk, 85 Dapur MBG di Tasikmalaya Berhenti BeroperasiBTN Karawang Perkuat Akses Pembiayaan UMKM Biar Usaha Makin Cuan
Menurut Acuviarta, kenaikan harga Pertamax berpotensi memengaruhi biaya transportasi masyarakat, terutama bagi pengguna kendaraan pribadi yang selama ini mengandalkan BBM nonsubsidi tersebut.
Dampak lanjutan juga dapat dirasakan pada sektor lain yang bergantung pada mobilitas dan distribusi barang, meskipun pengaruhnya tidak sebesar jika yang mengalami kenaikan adalah BBM bersubsidi.
Seperti diketahui, pemerintah resmi menyesuaikan harga Pertamax mulai Rabu (10/6/2026). Harga BBM dengan nilai oktan (RON) 92 itu naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau meningkat hampir Rp4.000 per liter.