
JABAR EKSPRES – Lapangan TK Mutiara Bunda Desa Linggaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya, pada Senin (22/6/2026) berubah menjadi panggung penuh warna. Bukan hanya dihiasi kostum adat Sunda dan penampilan seni anak-anak, tetapi juga dipenuhi perasaan yang bercampur aduk. Ada tawa, bangga, haru, bahkan air mata.
Di bawah tatapan para orang tua yang memadati area sekolah, satu per satu siswa tampil membawakan prosesi pelepasan bernuansa budaya Sunda. Anak-anak yang beberapa tahun lalu datang ke sekolah dengan tangisan dan enggan berpisah dari orang tuanya, kini tampil percaya diri di hadapan banyak orang.
Dengan balutan busana adat, mereka memainkan berbagai peran dalam upacara pelepasan. Ada yang menjadi lengser, raja, ratu, pengawal kerajaan hingga penari. Tingkah polos mereka sesekali mengundang gelak tawa penonton. Ada yang lupa gerakan, ada yang salah posisi, namun justru itulah yang membuat penampilan mereka terasa istimewa dan menggemaskan.
Baca Juga:Bahlil Sebut Pasokan Batu Bara Aman, Publik Duga Utang Pemerintah ke PLN Jadi Alasan Pemadaman BergilirHarga BBM Subsidi Bertahan Bantu Jaga Daya Beli Masyarakat, Benarkah?
Para orang tua tampak sibuk mengabadikan setiap momen. Sorak dan tepuk tangan terus terdengar mengiringi penampilan anak-anak yang menunjukkan hasil belajar dan latihan mereka selama ini.
Namun suasana yang semula riuh perlahan berubah ketika acara memasuki prosesi sungkeman yang digelar di atas panggung.
Satu per satu siswa TK B yang akan meninggalkan bangku taman kanak-kanak dipanggil maju. Mereka menghampiri guru-guru yang selama ini mendampingi perjalanan belajar mereka. Anak-anak itu kemudian menundukkan kepala, mencium tangan, dan memeluk guru dengan erat. Tak sedikit yang langsung menangis.
Beberapa anak tampak sesenggukan saat memeluk gurunya. Mereka seolah belum siap berpisah dengan sosok yang selama ini menjadi tempat bercerita, belajar, bermain, bahkan tempat mencari kenyamanan saat rindu kepada orang tua di sekolah.
Tangisan anak-anak itu membuat suasana lapangan yang semula meriah mendadak hening. Banyak orang tua yang ikut berkaca-kaca. Tampak guru pun tampak tak kuasa menyembunyikan kesedihannya.
Bagi para guru, perpisahan ini bukan sekadar melepas siswa ke jenjang berikutnya. Ada kenangan yang tersimpan selama bertahun-tahun membersamai tumbuh kembang mereka. Dari anak yang belum berani ditinggal orang tua, hingga kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri dan siap memasuki sekolah dasar. Meski haru menyelimuti acara, rasa bangga tetap menjadi perasaan yang paling dominan.