
JABAR EKSPRES – Di sebuah bukit terpencil di wilayah Bandung Barat, pendidikan bukan sekadar soal belajar di kelas, melainkan perjuangan menaklukkan jalan curam setiap hari.
Pemandangan itu terlihat di SDN Giriasih, sebuah sekolah dasar yang berdiri di puncak perbukitan Kampung Gabusgirang, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin.
Letaknya jauh dari jalan utama membuat sekolah tersebut hanya dapat diakses melalui jalur menanjak, sempit, berbatu, dan cukup berbahaya, terutama saat musim hujan.
Baca Juga:CJIBF 2026, Gubernur Ahmad Luthfi Tawarkan Berbagai Proyek Investasi Usai Mengamuk di RS, Pria Disabilitas Ditemukan Tewas Tenggelam di Situ Cikaret Cibinong
Bagi siswa-siswi di sekolah itu, perjalanan menuju ruang kelas menjadi perjuangan tersendiri. Mereka tidak hanya membawa buku dan perlengkapan belajar, tetapi juga semangat besar untuk menempuh medan berat demi menuntut ilmu.
Salah satunya Fajar Agustian, siswa kelas 5 yang setiap hari harus berjalan kaki sejauh sekitar empat kilometer dari rumahnya menuju sekolah. Sejak pagi, ia sudah meninggalkan rumah untuk menyusuri jalan setapak yang menanjak tajam, melewati perkebunan dan lereng bukit.
Dengan seragam sekolah dan tas di punggung, Fajar berjalan bersama beberapa teman sebayanya. Sesekali mereka berhenti sejenak untuk mengatur napas sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Meski perjalanan itu melelahkan, ia mengaku sudah terbiasa karena setiap hari harus melewati jalur yang sama.
“Kalau berangkat ke sekolah jalan kaki. Dari rumah lumayan jauh, sekitar empat kilometer,” ujar Fajar, Selasa (12/5/2026).
Ia mengatakan perjalanan menuju sekolah bisa memakan waktu cukup lama karena medan yang harus dilalui tidak mudah. Jalan menanjak dan berbatu membuat langkah mereka sering melambat, apalagi saat musim hujan tiba.
“Kalau capek ya capek, apalagi jalannya naik terus. Tapi tetap berangkat karena mau sekolah,” katanya.
Menurut Fajar, kondisi paling sulit dirasakan ketika hujan turun. Jalan tanah menjadi licin dan berlumpur, sehingga dirinya dan teman-teman harus lebih berhati-hati saat berjalan.
Baca Juga:Pertamina Perkuat Aliansi Strategis untuk Dorong Inovasi Digital di Sektor Hulu MigasWagub Jateng Kawal Kasus Kekerasan Seksual di Pati, Jamin Pendidikan dan Pendampingan Hukum Korban
“Kalau hujan jalannya licin, kadang takut jatuh. Tapi tetap berangkat, pelan-pelan saja,” tuturnya.
Jarak empat kilometer di kawasan perkotaan mungkin tak terasa berat. Namun di wilayah perbukitan terpencil, perjalanan itu berarti menapaki jalan tanah berbatu dengan kemiringan cukup tajam. Beberapa bagian jalur hanya selebar satu kendaraan roda dua dan di sisi tertentu berbatasan langsung dengan lereng curam.