Konten Lokal Terdesak Arus Global, KPID Jabar Dorong Penguatan Identitas Budaya – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat mendorong penguatan produksi konten lokal sebagai upaya menjaga keberlangsungan dan identitas budaya yang berkembang di masyarakat.

Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet, menjelaskan bahwa konten-konten local saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi media atau lembaga penyiaran lokal yang memproduksi maupun dari sisi konten yang beredar.

Di era produksi konten yang kian canggih, masyarakat kini lebih mudah mengakses konten-konten berskala nasional maupun global.

Baca Juga:Jalur Strategis Cijayanti–Bojong Koneng Ditata, Program Gentengisasi Libatkan Warga dan CSRKecelakaan Tunggal di Puncak Bogor, Pemotor Tewas Usai Hantam Trotoar

Kondisi tersebut berbeda dengan masa lalu yang kadang lembaga penyiaran daerah masih mendominasi arus distribusi konten masyarakat lokal.

Pergeseran dan kemajuan itulah yang membuat konten lokal kian tersaingi. Padahal, dari sisi potensi dan peluang, konten local tetap memiliki daya Tarik tersendiri.

Menurut Adiyana, penguatan konten lokal tidak hanya sebatas pada aspek produksi. Tapi ada spirit tersendiri.

“Ini juga upaya menjaga identitas budaya,” cetusnya, saat forum penguatan di Tasikmalaya, Selasa (21/4).

Ia menambahkan bahwa lembaga penyiaran memiliki kewajiban dalam memproduksi konten lokal, khususnya lembaga penyiaran dengan sistem siaran berjejaring (SSJ).

“Itu kewajibannya 10 persen konten lokal,” sambungnya.

Menurut Adiyana, KPID sempat melakukan riset. Hal itu terkait perilagu Gen-Z.

Hasilnya menunjukkan bahwa pengaruh platform Over The Top (OTT) cukup signifikan dalam membentuk nilai sosial dan budaya, yang pada akhirnya berpotensi menggeser nilai-nilai lokal.

Baca Juga:Misteri Luka Bakar Bocah 8 Tahun di Leuwisari Tasikmalaya, Diduga Disiram Bensin Saat BermainRibuan Pelaut RI Jadi Kekuatan Pertamina, Dominasi 94 Persen di Armada Global

Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat, Rafael Situmorang, menyoroti tantangan perkembangan era informasi terbaru, yakni soal regulasi.

Menurutnya, platform digital yang kini populer belum memiliki aturan yang seketat media penyiaran konvensional seperti radio dan televisi.

“Nah ini perlu jadi perhatian, agar ekosisitem media tetap sehat,” cetus Rafael.(son)

Leave a Comment