Kisah Inspiratif Dr. Asih Handayanti Raih Gelar Doktor di Usia 60 Tahun, Ungkap Kunci Anti Menunda – jabarekspres.com

“Apa yang Bisa Dikerjakan, Kerjakanlah, Jangan Ditunda” – Dr. Asih Handayanti

Di tengah tantangan era modern dan derasnya arus digital, tidak semua perempuan memiliki tekad kuat untuk menempuh pendidikan hingga jenjang tertinggi. Terlebih bagi mereka yang harus membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan berbagai tanggung jawab lainnya.

Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Dr. Asih Handayanti, Dra., M.I.Kom., M.H. Di usia 60 tahun, perempuan kelahiran Jakarta, 17 Januari 1966 ini, resmi meraih gelar doktor dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba) pada tahun 2026.

Baca Juga:Tebang Bambu Berujung Maut, Pria 60 Tahun Tewas Tertimbun Longsor di Dramaga Bogor,Pria Lansia Tertimbun Longsor saat Tebang Bambu di Dramaga Bogor, BPBD Lakukan Pencarian

Disertasinya mengangkat topik Strategi Komunikasi Pemasaran Berbasis Komunitas dalam Membangun Customer Engagement, dengan studi kasus pada program Tiket Travel Creators di Tiket.com.

Usai menjalani sidang terbuka di Auditorium Gedung Dekanat Unisba, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Selasa (5/5/2026), Dr. Asih berbagi kisah perjalanannya dengan penuh refleksi.

Ia mengungkapkan bahwa kesehariannya tidak jauh dari aktivitas profesional dan akademik. Selain bekerja di perusahaan swasta yang telah digelutinya selama lebih dari tiga dekade, ia juga aktif mengajar sejak 2018.

“Saya mengajar bukan karena merasa paling ahli, tapi sebagai proses berbagi dan mentransfer apa yang saya pelajari kepada mahasiswa,” ujarnya saat diwawancarai Jabar Ekspres.

Bagi Dr. Asih, pendidikan bukan sekadar gelar, melainkan ruang untuk terus memahami dan mengembangkan diri. Ia mengakui bahwa dorongan terbesarnya melanjutkan studi doktoral adalah rasa ingin tahu yang tidak pernah berhenti.

“Saya merasa selalu kurang, selalu ingin belajar lebih banyak. Itu yang membuat saya terus melangkah,” tuturnya.

Di tengah tanggung jawab memimpin dua cabang perusahaan di Bandung dan Denpasar, ia tetap berkomitmen menyelesaikan studinya. Bahkan, program doktoralnya berhasil ia tuntaskan dalam waktu relatif singkat, kurang dari tiga tahun.

Baca Juga:Sindikat Curanmor Jonggol Terbongkar, Pelaku dan Dua Penadah Dibekuk PolisiNobar Berujung Maut, Bobotoh Muda di Tasikmalaya Tewas Diduga Dikeroyok

Ia menyebut pencapaiannya sebagai “kecelakaan manis”. Baginya, gelar akademik hanyalah bonus, sementara yang terpenting adalah pemahaman dan manfaat dari ilmu yang diperoleh.

“Titel itu bonus. Yang penting bagaimana kita benar-benar memahami dan bisa mengamalkan ilmu tersebut,” jelasnya.

Leave a Comment