
JABAREKSPRES – Musim kemarau mulai dirasakan dampaknya oleh warga di Gang Karya, Kelurahan Jatayu, Kota Bandung. Menurunnya debit air tanah membuat sejumlah warga mulai kesulitan mendapatkan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mencuci hingga mandi.
Salah seorang warga, Sutisna, mengatakan kondisi tersebut hampir selalu terjadi setiap musim kemarau. Menurutnya, pasokan air dari sumur berkurang ketika hujan tidak turun dalam waktu yang lama. Sebaliknya, saat hujan turun, kondisi sumber air masih dapat sedikit pulih karena air hujan meresap ke dalam tanah.
“Kalau musim kemarau pasti susah. Kalau ada hujan masih mending karena masih ada serapan air. Tapi kalau kemarau panjang, debit air sumur terus berkurang,” ujar Sutisna saat ditemui di kediamannya, Jumat (26/6).
Baca Juga:Enam Tahun Dibina, Arul Lulus SMA dan Kini Bermimpi Mengabdi sebagai PolisiSemarak HUT Bhayangkara ke-80, Kapolres Cup Mini Soccer Pererat Sinergi Polri dan Wartawan
Ia menjelaskan, keluarganya mengandalkan sumur sebagai sumber utama air bersih. Sumur tersebut memiliki kedalaman sekitar 25 hingga 30 meter. Meski cukup dalam, debit air tetap menurun ketika musim kemarau berlangsung sehingga pengambilan air harus dilakukan secara bergantian dan lebih hemat.
Menurut Sutisna, pembangunan sumur dengan kedalaman tersebut juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ia memperkirakan biaya pengeboran sumur bisa mencapai sekitar Rp45 juta, sehingga tidak semua warga mampu membuat sumur baru ketika sumber air yang dimiliki mulai mengering.
“Kedalaman sumur sekitar 25 sampai 30 meter. Kalau membuat sumur seperti ini biayanya bisa sekitar Rp45 juta,” katanya.
Ketika debit air sumur terus menurun, sebagian warga terpaksa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan harian. Air biasanya dibeli dalam jeriken dengan harga sekitar Rp10 ribu per pembelian. Namun, apabila kondisi kemarau semakin panjang dan pasokan air semakin sulit diperoleh, pengeluaran warga untuk membeli air dapat meningkat hingga sekitar Rp50 ribu.
Selain menambah beban pengeluaran rumah tangga, keterbatasan air bersih juga memaksa warga mengubah pola penggunaan air. Mereka lebih mengutamakan kebutuhan pokok seperti memasak dan minum, sementara penggunaan air untuk keperluan lain harus dihemat.
Warga berharap musim kemarau tahun ini tidak berlangsung terlalu lama. Mereka juga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap wilayah-wilayah yang mulai mengalami kesulitan air bersih, baik melalui distribusi bantuan air bersih maupun penyediaan infrastruktur sumber air yang lebih memadai.