Jejak Putih Debu Kapur dan Cinta yang Tak Pernah Pudar dalam Ruang Kelas – jabarekspres.com

Debu putih yang menempel pada ujung jemari mungkin telah berganti dengan permukaan licin layar sentuh dan papan tulis plastik. Namun bagi seorang perempuan yang telah menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya di depan kelas, esensi pengabdian tidak pernah berubah sedikit pun.

Firman Satria, Kota Cimahi

Popon Saadah adalah saksi hidup bagaimana pendidikan bertransformasi dari era penggaris kayu hingga zaman kecerdasan buatan.

Sejak tahun 1989, ia telah mewakafkan separuh usianya untuk satu tujuan mulia yakni menjaga api pengetahuan tetap menyala di hati para anak didiknya.

Baca Juga:Aktivis Kampus Endus Kejanggalan Sidang Skandal Kepabeanan di PN Cibinong16 Mahasiswa IPB Kena Sanksi, Diduga Lakukan Kejahatan Asusila di Kampus

Lahir di Limbangan Garut pada 13 Oktober 1966, Popon mengawali langkahnya sebagai pendidik muda yang penuh gairah di SMPN 4 Cimahi.

Saat itu usianya baru 22 tahun dan baru saja menanggalkan status mahasiswa dari IKIP Bandung yang kini telah berganti menjadi Universitas Pendidikan Indonesia.

Di ruang guru masa itu, ia sempat merasa heran melihat para pengajar bahasa Sunda yang sudah sangat senja hingga ia menjulukinya sebagai kakek dan nenek.

Kini tanpa terasa ia telah sampai pada titik yang sama dengan kerutan di ujung mata yang menjadi prasasti perjalanan panjangnya.

Baginya ruang kelas adalah panggung utama tempat mimpi dan harapan disemai dengan penuh kesabaran. Menjadi guru bukan sekadar profesi mencari nafkah melainkan sebuah panggilan jiwa atau passion yang tidak bisa ditawar.

Ia sering merasakan energi positif yang luar biasa saat berinteraksi dengan anak anak yang usianya jauh di bawahnya.

Rahasia awet muda menurutnya terletak pada keriuhan suara siswa dan semangat murni yang terpancar dari mata mereka setiap hari.

Baca Juga:Harga Minyakita Melambung Sentuh Rp 21.000 Pedagang Kecil Menjerit!Masjid Al Jabbar Alokasikan Anggaran Rp 21,5 Miliar untuk Kebersihan, BKAD Bilang Begini

Hal itu menjadi bahan bakar utama yang menjaga jiwanya tetap segar meskipun raga mulai merasa lelah dimakan usia.

Zaman berganti dan tantangan yang dihadapi Popon pun ikut bergeser secara dramatis seiring masuknya pengaruh teknologi dalam kehidupan remaja.

Jika pada awal dekade sembilan puluhan ia menghadapi siswa yang relatif lebih mudah dipantik motivasinya, kini ia harus berhadapan dengan generasi gawai.

Popon sering merenung sendirian melihat bagaimana layar ponsel perlahan mengikis budaya literasi dan sopan santun para siswa.

Leave a Comment