
JABAR EKSPRES – Pengangguran di Bandung Barat belum benar-benar terkendali meski adanya penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).
Penurunan tersebut terbilang sangat tipis, dari 6,7 persen pada 2024 menjadi 6,6 persen pada 2025 atau hanya turun 0,1 persen. Kondisi ini belum mencerminkan perbaikan signifikan, terlebih jumlah pengangguran justru mengalami kenaikan.
Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, Penempatan Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (P3TKT) Disnaker KBB, Dewi Andini, menyebut dinamika ini menunjukkan persoalan ketenagakerjaan yang masih kompleks.
Baca Juga:Jelang Idul Adha, 61 Petugas Sisir 270 Lapak Hewan Kurban di Bandung BaratPredator Seksual Balita di Bandung Barat Divonis 12 Tahun Bui!
“Penurunannya sangat kecil dan belum cukup kuat menahan tekanan di lapangan. Apalagi ada dampak PHK yang belum sepenuhnya tercermin dalam data tahun ini,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Berdasarkan data, jumlah penduduk bekerja meningkat dari 1.443.076 orang pada 2024 menjadi 1.459.325 orang pada 2025. Namun di sisi lain, jumlah pengangguran juga naik dari 65.609 orang menjadi 67.927 orang.
Kondisi ini diperparah oleh kualitas tenaga kerja yang masih didominasi pendidikan rendah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, per Agustus 2025 sebanyak 39,10 persen pekerja merupakan lulusan SD ke bawah, sementara lulusan diploma dan perguruan tinggi hanya 1,92 persen.
Di sisi lain, tren peningkatan terjadi pada lulusan SMP, SMA, dan SMK yang naik sebesar 2,51 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kelompok ini menjadi penyumbang terbesar dalam struktur angkatan kerja di Bandung Barat.
Dewi menegaskan, pemerintah daerah menargetkan TPT dapat ditekan hingga 5,8 persen. Namun upaya tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Pengangguran tidak bisa ditangani satu pihak. Harus melibatkan investasi, pendidikan, pariwisata hingga UMKM agar penyerapan tenaga kerja lebih optimal,” katanya.
Baca Juga:Daya Beli Lesu, Kenaikan Harga LPG Nonsubsidi Tekan Pasar di Bandung BaratTekan Risiko Gagal Panen, Bandung Barat Percepat Pembangunan Irigasi dan Embung
Untuk menekan angka pengangguran, Disnaker terus menggencarkan pelatihan vokasi berbasis kebutuhan industri (link and match) agar peserta memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Selain itu, job fair dan program tenaga kerja mandiri (TKM) juga terus didorong. Dalam job fair terakhir, sekitar 3.000 pencari kerja mendaftar dan sekitar 600 orang berhasil terserap.
Namun demikian, masih terdapat kendala dalam pelaporan hasil rekrutmen oleh perusahaan, sehingga data penyerapan tenaga kerja belum sepenuhnya terukur secara akurat.
Sebagai solusi jangka pendek, program padat karya tetap dijalankan untuk menjaga daya beli masyarakat, meski sifatnya tidak permanen.