JAKARTA, HOLOPIS.COM – Analis komunikasi politik Hendri Satrio (Hensat) menilai wacana penggulingan pemerintahan Prabowo Subianto yang belakangan mencuat di ruang publik merupakan kesalahan dalam membaca peta politik nasional.
Pernyataan Hensat tersebut untuk merespons wacana yang dikaitkan dengan seruan pengamat politik Saiful Mujani dan kawan-kawannya terkait penjatuhan pemerintahan Prabowo Subianto.
– Advertisement –
Hendri Satrio menyebut, ada pihak yang beranggapan bahwa menjatuhkan Prabowo terlebih dahulu akan membuka jalan mudah untuk menghadapi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Ada yang berpikir nggak apa-apa Gibran saja, yang penting Prabowo turun dulu. Wah, Anda salah,” kata Hensat dalam kanal Youtubenya yang dilihat, Jumat (10/4/2026).
– Advertisement –
Ia menilai asumsi bahwa Gibran merupakan titik lemah adalah keliru. Menurutnya, Gibran memiliki faktor penopang kekuatan politik yang signifikan, yakni Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
“Jangan disangka kemudian Gibran mudah dijatuhkan atau dipaksa pemilu cepat seperti zaman Habibie dulu. Belum tentu,” ujarnya.
Hendri juga menilai bahwa jika Gibran telah berada dalam lingkar kekuasaan, Jokowi tidak akan tinggal diam dan akan berupaya menjaga stabilitas kekuasaan tersebut.
“Kalau anaknya sudah jadi wapres, pasti bapaknya akan menahan itu supaya long lasting,” katanya.
Bos lembaga survei KedaiKopi ini juga menegaskan bahwa upaya makar bukan perkara mudah untuk dilakukan. Upaya penggulingan sebuah kekuasaan tidak sekadar hanya omong-omong, akan tetapi perlu kekuatan yang lebih besar.
Bahkan Hendri menegaskan, dinamika politik Indonesia tidak sesederhana menjatuhkan satu figur untuk melemahkan yang lain, dan setiap skenario politik harus didasarkan pada kalkulasi yang matang.
“Makar itu nggak mudah, bos. Tanpa senjata sulit dilakukan,” ujarnya.
– Advertisement –