
JABAR EKSPRES – Pagi baru saja dimulai ketika Anwar Musadad, 21 tahun, membuka telepon genggamnya. Di linimasa media sosial, kabar yang muncul membuatnya terdiam sejenak: harga Pertamax resmi naik.
Tak lama kemudian, ia menuju SPBU untuk mengisi bahan bakar sebelum berangkat ke Kota Sumedang. Namun yang ditemuinya bukan hanya papan harga baru, melainkan juga tangki Pertamax yang kosong.
“Bangun tidur lihat medsos, ternyata benar naik dan di pom juga kosong,” kata Anwar pada Rabu (10/6/2026).
Baca Juga:Pengamat Nilai Kenaikan Pertamax Berpotensi Tekan Daya Beli Warga MasyarakatTransportasi Publik Buruk dan BBM Subsidi Salah Sasaran, Kenaikan Pertamax Dinilai Perberat Beban Masyarakat
Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi yang diumumkan PT Pertamina Patra Niaga mulai berlaku tepat pukul 00.00 WIB. Harga Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Di sejumlah SPBU di Kabupaten Sumedang, kebijakan itu langsung memicu lonjakan pembelian sejak malam sebelumnya. Banyak pengendara memilih mengisi tangki penuh sebelum harga baru diberlakukan.
Akibatnya, stok Pertamax di beberapa SPBU dilaporkan habis pada Rabu pagi. Kondisi tersebut membuat sebagian pengendara beralih ke Pertalite dan memicu antrean yang lebih panjang dibanding hari-hari biasa.
Anwar mengaku terkejut bukan hanya karena besarnya kenaikan harga, tetapi juga karena kebijakan tersebut dinilai berlangsung mendadak.
“Ada apa naik langsung segitu. Ya sudah, rakyat mah ngikut saja,” ujarnya.
Bagi sebagian masyarakat yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk bekerja dan beraktivitas setiap hari, kenaikan harga BBM menjadi beban tambahan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
“Ekonomi lagi sulit, ini ikut naik. Mudah-mudahan bisa turun lagi,” katanya sambil tersenyum tipis.
Baca Juga:Resmi! Pertamax Naik Jadi Rp16.250 Mulai 10 JuniKenaikan Harga Pertamax Dikeluhkan Warga Bandung, Pengemudi Ojol Khawatir Biaya Hidup Ikut Merangkak Naik
Seorang petugas SPBU di Sumedang membenarkan bahwa lonjakan pembelian Pertamax sudah terjadi sejak Selasa malam. Banyak konsumen datang untuk mengisi bahan bakar sebelum harga baru diberlakukan.
“Naik mulai jam 12 malam. Kemarin memang banyak yang antre, sekarang stoknya habis,” bebernya.
PT Pertamina Patra Niaga menyatakan penyesuaian harga dilakukan setelah melalui evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah.
Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan perubahan harga telah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator dan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.