Drawdown Hampir 40% Saat IHSG Crash, Trader Ini Bongkar Rahasia Recover

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga ke level psikologis 5.800 dan melemahnya nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh Rp18.200 per Dolar AS beberapa waktu lalu, sempat memicu kepanikan massal di pasar modal Indonesia. Banyak investor ritel hingga institusi mengalami penurunan nilai aset (drawdown) yang sangat dalam. Namun, momentum kebangkitan pasar pasca-9 Juni menjadi titik balik penting bagi mereka yang bertahan dengan strategi yang disiplin.

Dalam sebuah tayangan podcast di kanal YouTube Leon Hartono, seorang trader profesional Hengky Adinata secara blak-blakan membuka isi portofolio investasinya ke publik. Ia membagikan kisah bagaimana asetnya sempat mengalami drawdown atau penurunan nilai hingga hampir 40 persen akibat hantaman crash bursa domestik, sebelum akhirnya berhasil pulih total (recover).

Bagi sebagian besar pelaku pasar, memotong kerugian atau cut loss adalah keputusan emosional yang paling sulit dilakukan. Namun, bagi Hengky, langkah agresif ini justru menjadi dewa penyelamat yang menjaga modalnya tetap utuh saat IHSG terus menembus level support terendahnya. Ia menegaskan bahwa cut loss bukanlah bentuk kekalahan, melainkan bagian dari kalkulasi manajemen risiko yang matang untuk menghindari potensi kebangkrutan total.

“Disiplin cut loss itu harga mati saat market sedang crash. Ketika indeks jebol ke 5.800, mempertahankan saham-saham yang trennya sudah rusak hanya akan mengunci modal kita di bawah. Lebih baik amankan sisa modal yang ada, lalu tunggu momentum konfirmasi pembalikan arah,” ungkap Hengky saat menjelaskan reasoning di balik keputusan trade yang diambilnya, dikutip Holopis.com, Rabu (17/6/2026).

Titik balik portofolio Hengky mulai terjadi setelah tanggal 9 Juni. Sentimen makroekonomi domestik perlahan membaik yang ditandai dengan penguatan kembali nilai tukar Rupiah ke level Rp17.000-an per Dolar AS, menyusul adanya kebijakan penurunan harga BBM serta respons positif pasar terhadap hasil pertemuan strategis pemerintah.

Ketika indikator pasar mulai menunjukkan sinyal bullish, Hengky langsung mengubah strateginya dari defensif menjadi ofensif. Sisa amunisi modal yang berhasil diselamatkan dari proses cut loss sebelumnya, langsung dialokasikan untuk menyerok saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), terutama saham-saham milik grup konglomerat yang harganya sudah terdiskon sangat dalam.

– Advertisement –

“Begitu makro kita membaik dan Rupiah menguat balik ke 17.000-an, saham-saham konglo yang punya fundamental kuat langsung jadi motor penggerak utama. Di situlah momen recovery portofolio terjadi dengan sangat cepat karena kita masuk di harga bawah dengan modal yang sudah bersih dari saham-saham zombie,” tambahnya.

Melalui keterbukaan portofolio yang dipaparkannya, Hengky ingin memberikan edukasi kepada para trader ritel bahwa mengalami minus hingga 40 persen adalah hal yang wajar dalam siklus krisis pasar modal, asalkan seorang trader tahu cara menghitung risiko pemulihannya.

Ia mengingatkan pentingnya memahami rasio risk-to-reward dan tidak asal melakukan average down(membeli lagi di harga bawah) tanpa adanya kepastian volume pembelian yang masuk ke pasar. Evaluasi berkala terhadap kebijakan bursa, seperti status Unusual Market Activity (UMA), suspensi saham, hingga konsentrasi kepemilikan saham (high shareholding concentration), juga menjadi menu wajibnya sebelum menaruh modal besar pada suatu saham.

Fase pemulihan pasar ini membuktikan bahwa kombinasi antara ketahanan psikologis, kedisiplinan keluar-masuk posisi, serta kejelian membaca arah makroekonomi adalah senjata utama untuk mengubah bencana crash bursa menjadi ladang keuntungan baru.

Leave a Comment