
JABAR EKSPRES – Berawal dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada akhir 2023, inisiatif pengolahan sampah plastik yang digagas Dafa Alif kini berkembang menjadi startup daur ulang bernama Replast Lab.
Dafa menjelaskan, Replast merupakan singkatan dari “Recycle Plastik”, sementara kata “Lab” dipilih karena timnya gemar bereksperimen dengan berbagai jenis material dan warna plastik.
“Sebetulnya kami suka bereksperimen seperti di laboratorium. Misalnya mencampur warna plastik yang berbeda untuk menghasilkan pola dan warna baru,” kata Dafa.
Baca Juga:Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Tasikmalaya Salurkan 8.000 Liter Air Bersih dan 100 Paket SembakoGagal Live Tawuran di Medsos, 3 Remaja Ditangkap Polisi di Parung Bogor
Ia mengungkapkan, eksplorasi material plastik telah dilakukan sejak 2022 hingga 2023. Ide membangun usaha ini muncul saat KKN, ketika timnya dihadapkan pada dua pilihan program, yakni pengolahan tekstil atau pengelolaan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS).
Bersama rekan-rekannya dari latar belakang disiplin ilmu yang berbeda, Dafa memilih fokus pada pengelolaan sampah.
“Saya dari desain produk, ada Wildan dari teknik sipil, dan Rizky dari teknik mesin. Kami membagi peran sesuai keahlian masing-masing,” ujarnya.
Pada awalnya, tim KKN tersebut beranggotakan lima orang. Namun, seiring berjalannya waktu, kini Replast Lab dikelola oleh tiga founder, yakni Dafa, Wildan, dan Rizky, dengan dukungan sekitar sembilan hingga sepuluh anggota lainnya.
Menurut Dafa, plastik dipilih sebagai bahan utama karena mudah ditemukan, mudah diolah, dan memiliki potensi visual yang menarik.
“Warna-warna plastik itu unik. Ketika dicampur, hasilnya bisa beragam seperti mencampur cat warna,” katanya.
Selain itu, bahan baku plastik dinilai lebih ekonomis, terutama jika diperoleh langsung dari hasil pengumpulan sampah.
Baca Juga:Suku Bunga Tinggi Gerus Minat Investasi Emas, Harga Acuan Ekspor TerkoreksiUdang Windu Jadi Penggerak Ekspor Perikanan di Indonesia, Tembus Rp173 Miliar dalam 5 Bulan
Saat ini, Replast Lab fokus mengolah beberapa jenis plastik seperti PP, HDPE, dan PET.
“Sebetulnya hampir semua material bisa diolah kembali, tetapi ada juga yang lebih cocok untuk upcycle, seperti styrofoam dan busa,” jelasnya.
Ia menambahkan, perbedaan mendasar antara daur ulang (recycle) dan upcycle terletak pada prosesnya.
“Kalau recycle itu mengembalikan material menjadi bahan baku awal. Sementara upcycle adalah mengubah barang bekas menjadi produk baru dengan fungsi berbeda,” tuturnya.