Dari Aktivis ke Menteri PPPA, Arifatul Fauzi Kini Viral Usai Usulan Gerbong KRL

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Figur Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi tengah jadi sorotan karena usulannya agar gerbong KRL Commuter Line dari belakang menjadi ke tengah. Omongan Arifah itu pun menuai reaksi luas dari publik.

Lantas, bagaimana rekam jejak Arifah? Perempuan kelahiran Bangkalan, 56 tahun lalu itu kini jadi salah satu figur penting dalam upaya penguatan perlindungan perempuan dan anak di Tanah Air Dia dipercaya Presiden RI Prabowo Subianto sebagai Menteri PPPA.

– Advertisement –

Dengan pengalaman panjang sebagai aktivis, organisatoris, ia kerap memperjuangkan isu kesetaraan gender serta hak-hak kelompok rentan. Arifah saat ini menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Periode 2025-2030.

Arifah terpilih dalam Kongres XVIII Muslimat NU yang digelar pada tanggal 10-15 Februari 2025 di Surabaya, Jawa Timur. Pada permusyawaratan tertinggi organisasi, para peserta Kongres Ke-18 Muslimat NU sepakat memilihnya sebagai Ketua PP Muslimat NU masa khidmat 2025-2030.

– Advertisement –

Punya Akar Kuat

Dia memiliki akar kuat dalam dunia pendidikan dan gerakan sosial. Ia menempuh pendidikan tinggi di bidang keislaman dan sosial.

Mengutip dari laman NU Online, Arifah merampungkan studi sarjana di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Yogyakarta. Ia lulus pada tahun 1994.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi
Menteri PPPA Arifah Fauzi. (Dok. Instagram Arifah Fauzi).

Selanjutnya, Arifah, melanjutkan pendidikan magister Komunikasi di Universitas Indonesia atas beasiswa Ford Foundation pada tahun 2002.

Dengan bekal itu, ia membentuk perspektifnya dalam melihat isu perempuan dan anak secara komprehensif. Perespektif itu baik dari sisi budaya, agama, maupun kebijakan publik.

Sejak masa muda, ia aktif dalam berbagai organisasi. Arifah tercatat pernah jadi Ketua PP Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) pada 1989-1991.

Dia juga pernah menjabat berbagai posisi penting di organisasi lainnya, termasuk Sekretaris Umum PP Fatayat NU dan Sekretaris Umum PP Muslimat NU.

Selain itu, kiprahnya juga aktif di Majelis Alimat Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia terlibat dalam berbagai gerakan sosial, seperti Gerakan Nasional Anti Korupsi bersama NU dan Muhammadiyah.

Pengalaman panjang ini menjadikannya figur yang tidak hanya memahami persoalan secara teoritis. Tapi, juga memiliki pengalaman langsung dalam menangani berbagai kasus sosial di masyarakat.

Penunjukan Arifah sebagai Menteri PPPA jadi bagian komitmen pemerintah yang ingin perkuat agenda perlindungan perempuan dan anak. Ia dipercaya melanjutkan dan memperkuat program-program strategis yang telah berjalan.

Selain itu, menghadirkan pendekatan baru yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman.

Dalam perannya sebagai Menteri PPPA, ia fokus pada isu-isu krusial seperti pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dia juga melakukan penguatan sistem perlindungan berbasis komunitas.

Begitu pun isu peningkatan partisipasi perempuan dalam pembangunan. Arifa juga menyoroti isu kasus eksploitasi, perdagangan manusia, hingga kekerasan anak.

Sebagai Menteri PPPA, Arifah juga mengupayakan pendekatan kolaboratif lintas sektor. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dunia pendidikan.

Salah satu yang jadi perhatian Arifah terkait isu kekerasan terhadap anak di daycare Yogyakarta. Dia pun mesti datang ke Yogyakarta untuk menemui orangtua dari para korban.

Dia bilang pemerintah akan memperhatikan kasus ini agar berjalan sesuai proses yang adil, transparan, dan berpihak pada korban.

“Kasus daycare yang tidak berjalan sesuai standar pengasuhan dan perlindungan anak harus menjadi perhatian serius agar tidak kembali terulang di masa mendatang,” kata Arifah dikutip dari laman resmi Kementerian PPPA dikutip pada Rabu, (29/4/2026).

– Advertisement –

Leave a Comment