HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemandangan di Balaikota Jakarta pada Rabu, 8 April 2026, menjadi saksi bisu lahirnya sebuah narasi baru tentang kekuatan bangsa yang digerakkan oleh sosok-sosok tangguh. Di bawah tajuk dialog nasional yang hangat, sebuah pesan kuat menggema di setiap sudut ruangan: masa depan Indonesia yang inklusif dan tangguh kini sedang ditenun oleh jemari para perempuan.
Fokus utama dalam pertemuan ini adalah bagaimana peran perempuan merambah ke ceruk-ceruk ekonomi kreatif yang semakin strategis. Sektor ini dianggap bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan panggung utama bagi pembangunan nasional yang lebih berdaya saing.
– Advertisement –
Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, berdiri di hadapan para peserta dengan keyakinan penuh. Beliau menekankan bahwa ekonomi kreatif bukan sekadar sektor bisnis yang kaku, melainkan sebuah “ruang merdeka” yang memberikan kebebasan berekspresi sekaligus peluang ekonomi yang nyata.
Baginya, akselerasi transformasi digital yang terjadi saat ini telah berhasil meruntuhkan tembok-tembok penghalang masa lalu. Dahulu, banyak keterbatasan yang menghambat perempuan untuk masuk ke pasar kerja global, namun kini lanskap tersebut telah berubah drastis secara fundamental.
– Advertisement –
Di era ini, perempuan tidak lagi dibatasi oleh sekat geografis maupun latar belakang sosial yang seringkali menjadi penghalang. Teknologi telah menjadi sayap yang memungkinkan perempuan berkarya dari mana saja, bahkan dari ruang tamu rumah mereka sendiri, untuk menjangkau dunia.
Keberadaan para perempuan ini menjadikan mereka mesin pertumbuhan baru atau the new engine of growth yang sangat vital bagi stabilitas nasional. Kuncinya, menurut Irene, hanyalah keberanian untuk memulai dan rasa percaya diri yang kuat terhadap potensi yang dimiliki secara pribadi.
Narasi tentang keberdayaan ini semakin dipertegas oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan. Beliau membawa perspektif yang sangat tajam dan kritis mengenai posisi perempuan dalam struktur pembangunan Indonesia di masa yang akan datang.
Menurut Veronica, sudah saatnya perempuan beralih posisi dari sekadar penerima manfaat bantuan pemerintah menjadi penggerak utama dalam roda ekonomi. Ia ingin melihat perempuan terlibat aktif dalam proses produksi dan distribusi ide-ide kreatif secara mandiri dan berkelanjutan.
Beliau juga menekankan bahwa keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan dan strategi ekonomi bukanlah sekadar pilihan tambahan. Sebaliknya, hal ini merupakan sebuah keharusan melalui kebijakan yang afirmatif untuk memastikan suara perempuan tetap terdengar di meja kekuasaan.
Sinergi yang terbangun ini pun menemukan akarnya pada fondasi pembangunan manusia yang dicanangkan oleh pemerintah. Febrian Alphyanto Ruddyard, Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas, mengaitkan gerakan besar ini dengan cita-cita nasional yang tertuang dalam Asta Cita ke-4.
Ia memotret sebuah realita sosial bahwa ketahanan sebuah bangsa sebenarnya dibangun dari unit yang paling kecil, yaitu keluarga. Di sanalah perempuan berdiri kokoh sebagai penjaga keberlangsungan hidup, pendidik generasi, sekaligus penopang ekonomi keluarga yang paling setia dan ulet.
Melalui kacamata ekonomi kreatif, penguatan kapasitas perempuan kini dipandang sebagai langkah konkret untuk memperluas partisipasi masyarakat secara luas. Hal ini diharapkan mampu menyemen fondasi pembangunan nasional agar menjadi lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.
– Advertisement –