Petani Papua Sambut Sawah Baru, Siap Tinggalkan Krisis Pangan

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) yang dijalankan pemerintah melalui Kementerian Pertanian mendapat respons positif dari sejumlah petani di Papua. Kehadiran lahan persawahan baru dinilai bukan hanya membantu meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menjadi jawaban atas perubahan pola hidup dan konsumsi masyarakat yang terus berkembang.

Kepala Kampung Tokas, Distrik Moswaren, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, Markus Homer mengatakan masyarakat menyambut baik pengembangan sawah seluas 3.700 hektare di wilayahnya. Menurutnya, program tersebut memberi harapan baru bagi warga dalam menjaga ketersediaan pangan untuk jangka panjang.

“Jadi kami sangat luar biasa antusias (dengan) program yang diturunkan oleh Presiden kepada kami orang Papua. Kami sangat senang karena pangan ini, bagi kami masyarakat, untuk kehidupan kami masyarakat ke depan,” ujar Markus dalam keterangan yang dikutip Holopis.com, Senin (15/6/2026).

Markus yang juga menjabat Ketua Kelompok Tani Rata Jaya menilai pola konsumsi masyarakat Papua saat ini sudah mengalami perubahan. Jika sebelumnya makanan lokal lebih dominan, kini generasi muda semakin akrab dengan beras sebagai makanan pokok sehari-hari.

“Jadi generasi kami sudah berubah, sudah canggih. Generasi (sekarang) tidak bisa berada (mengonsumsi) makanan-makanan lokal. Mereka sudah adaptasi dengan makanan-makanan yang sudah disiapkan, mungkin nasi,” katanya.

Selain perubahan konsumsi, Markus menyoroti perubahan pola bertani masyarakat. Menurut dia, kebiasaan berpindah-pindah lokasi kebun yang dulu umum dilakukan kini semakin sulit diterapkan. Karena itu, keberadaan lahan sawah permanen dianggap menjadi solusi yang lebih relevan.

– Advertisement –

“Karena sudah perkembangan sekarang, kita berkebun adalah (tanam) pangan di satu lokasi, satu tempat, kita hanya tinggal olah saja, tidak bisa dipindah-pindah lagi. Maka itu kemarin kami di Sorong Selatan, kami terima 3.700 hektare yang kemarin sudah dikerjakan di tahun 2025. Sudah percetakan sawah, di tahun 2026 kita siap mau tanam,” ujarnya.

Dukungan serupa datang dari Kepala Kampung Molase, Distrik Klamono, Papua Barat Daya, Elias R. Semih. Sebagai pemilik tanah adat di lokasi program, ia meyakini pengembangan sawah dapat membantu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian warga.

“Program ini diterima, dikelola oleh masyarakat supaya ekonomi mereka itu ada perubahan,” kata Elias.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas perhatian terhadap masyarakat di Papua.

“Terima kasih untuk Bapak Presiden Prabowo yang begitu antusias untuk melihat masyarakat ekonomi akar rumput di bawah dan mereka punya hidup. Mudah-mudahan ke depan menjadi baik, menjadi perubahan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Teguh Apmin Kampung Swentab, Kabupaten Jayapura, Rizal Beno mengakui program tersebut sudah memberikan manfaat nyata bagi petani. Kelompoknya mendapat alokasi cetak sawah seluas 50 hektare dan sebagian lahan telah mulai ditanami.

Meski demikian, Rizal berharap dukungan sarana pertanian terus ditingkatkan, terutama fasilitas pascapanen seperti mesin panen yang hingga kini masih menjadi kebutuhan utama petani.

Di sisi lain, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan pemerintah berkomitmen memperkuat sektor pertanian Papua. Pemerintah menargetkan pengembangan cetak sawah hingga 80 ribu hektare selama periode 2025-2026, lengkap dengan dukungan alat dan mesin pertanian modern.

“Kita inginkan Papua, Kalimantan, Sumatera dan Jawa mandiri pangan dan mandiri energi ke depan, sehingga inflasi bisa terkontrol. Mulai padi, jagung, kopi, kakao, pala, sagu, ubi jalar, singkong, kita programkan semua untuk saudara-saudara kita di sana,” ujar Amran.

Ia juga memastikan sebagian besar kebutuhan yang diajukan petani dan pemerintah daerah telah ditindaklanjuti Kementerian Pertanian.

“Tadi minta traktor, minta irigasi, minta cetak sawah. Semua permintaan hari ini hampir 90 persen kami penuhi dan kalau progresnya bagus, 100 persen kami penuhi permintaannya nanti, termasuk kopi, pala, kakao dan seterusnya,” tegasnya.

Leave a Comment