Gencatan Senjata AS-Iran Kritis, Trump Sebut Proposal dari Teheran Sampah!

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyebut kondisi gencatan senjata antara AS dan Iran berada di titik paling rapuh. Dinamika itu terlihat setelah Washington menerima respons terbaru Teheran terkait proposal penghentian perang.

Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump melontarkan kritik keras terhadap dokumen balasan Iran yang dikirim melalui mediator Pakistan. Ia bahkan menyebut isi proposal tersebut tidak layak diterima.

Trump mengatakan gencatan senjata kini berada dalam keadaan sangat lemah setelah membaca respons dari Iran.

“Saya akan menyebutnya yang terlemah saat ini, setelah membaca sampah itu,” kata Trump dikutip dari Anadolu, pada Selasa, (12/5/2026).

– Advertisement –

Ia kemudian mengibaratkan situasi gencatan senjata seperti pasien kritis yang nyaris kehilangan harapan hidup.

“Saya akan mengatakan gencatan senjata berada dalam kondisi kritis, di mana dokter masuk dan berkata, ‘Tuan, orang yang Anda cintai memiliki peluang hidup sekitar 1%’,” lanjut Trump.

Trump juga menyebut proposal terbaru Iran sebagai usulan yang tidak masuk akal dan mustahil diterima pihak mana pun.

“Itu proposal yang bodoh, dan tidak ada yang akan menerimanya,” kata Trump.

Selain menolak isi proposal, Trump mengkritik Iran karena dianggap terlalu lama memberikan respons. Menurutnya, jawaban yang seharusnya sederhana justru membutuhkan waktu hingga empat hari.

“Mereka mengirimkan dokumen ini kepada kami yang kami tunggu selama empat hari, padahal seharusnya hanya membutuhkan waktu 10 menit,” kata Trump.

Trump mengklaim bahwa sebelumnya Iran sempat memberikan jaminan terkait penghentian pengembangan senjata nuklir. Namun, ia menyindir Iran yang menarik kembali komitmen tersebut.

“Jadi mereka setuju dengan kita, lalu mereka menarik kembali kesepakatan itu,” kata Trump.

“Mereka tidak bisa memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak mengatakan itu dalam surat mereka,” lanjut Trump.

Meski melontarkan kritik keras, Trump tetap membuka peluang diplomasi dengan Teheran. Saat ditanya apakah solusi damai masih memungkinkan, ia menjawab singkat bahwa peluang itu masih ada. “Saya pikir itu sangat mungkin.”

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyinggung persoalan material nuklir Iran pascaserangan AS tahun lalu. Ia mengklaim Iran sempat memberi sinyal soal ‘debu nuklir’ yang muncul akibat serangan terhadap fasilitas nuklir mereka.

“Iran memberi tahu saya dengan sangat tegas… mereka bermaksud memberi kita debu nuklir, seperti yang saya sebut,” katanya.

Trump menyebut lokasi fasilitas yang diserang telah mengalami kerusakan sangat parah sehingga material di dalamnya hampir mustahil dipindahkan.

“Hanya ada satu atau dua negara di dunia yang bisa mendapatkannya… Letaknya sangat dalam dan terkena dampak begitu parah sehingga tidak mungkin ada peralatan untuk memindahkannya,” kata Trump.

Ia juga mengklaim Iran menyebut hanya AS dan China yang memiliki kemampuan mengambil material tersebut dari lokasi terdampak.

Selain membahas Iran, Trump turut menyinggung kelompok Kurdi yang menurutnya gagal memenuhi ekspektasi Washington terkait distribusi senjata kepada kelompok oposisi Iran.

“Kami pikir Kurdi akan memberi kami senjata, tetapi Kurdi mengecewakan kami,” jelas Trump.

Trump bahkan menuding kelompok Kurdi hanya mau bergerak jika mendapat bayaran.

“Kurdi mengambil, mengambil, mengambil. Mereka memiliki reputasi yang bagus di Kongres. Kongres mengatakan, ‘Oh, mereka berjuang sangat keras.’ Mereka berjuang keras ketika mereka dibayar,” tambahnya.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran sendiri pecah setelah serangan gabungan Washington dan Tel Aviv terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu memicu balasan dari Teheran ke Israel serta sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen.

Meski Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu, ketegangan antara kedua negara hingga kini masih belum mereda.

– Advertisement –

Leave a Comment