14 Kecamatan di Kabupaten Bandung Barat Masuk Zona Rawan Kekeringan – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Sebanyak 14 kecamatan di Kabupaten Bandung Barat (KBB) masuk zona risiko tinggi kekeringan jelang musim kemarau 2026, seiring prediksi dampak El Nino yang diperkirakan lebih ekstrem.

Dari total 16 kecamatan di KBB, hanya dua wilayah yakni Batujajar dan Saguling yang berada pada kategori risiko sedang. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah daerah untuk mempercepat langkah mitigasi menghadapi potensi krisis air.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bandung Barat, Dedi Supriadi, menegaskan bahwa penanganan kekeringan harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai sektor.

Baca Juga:Bendungan Jebol di Gununghalu, 80 Hektare Sawah Terancam KekeringanKekeringan Makin Parah, Alamku Geruduk BTNGC: Bongkar 40 Titik Air Ilegal dan Minta Kepala Balai Mundur  

“Mitigasi tidak bisa parsial. Semua sektor harus bergerak bersama sejak sekarang agar dampak kekeringan tidak meluas,” ujar Dedi saat dikonfirmasi, Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, langkah awal difokuskan pada penguatan sektor sumber daya air melalui optimalisasi pengelolaan waduk dan bendungan guna menjaga pasokan air selama musim kemarau.

“Kami fokus pada kesiapan sebelum krisis, bukan saat krisis sudah terjadi,” tegasnya.

Selain itu, BPBD juga menyiapkan skenario distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak, termasuk pemetaan wilayah prioritas yang berpotensi mengalami kekeringan paling parah.

“Distribusi air bersih dan penentuan wilayah prioritas harus matang, supaya respons di lapangan tidak terlambat,” katanya.

Di sektor pertanian, koordinasi dengan dinas terkait dilakukan untuk menyesuaikan kalender tanam serta mendorong penggunaan varietas benih yang lebih tahan terhadap kondisi kering.

Langkah ini dinilai penting untuk menekan risiko gagal panen yang kerap terjadi saat musim kemarau panjang.

Baca Juga:Peluang Cuan Besar bagi Indonesia, Barantin Ekspor Langsung Durian Beku ke ChinaHarga Minyakita Naik Tipis, Mendag Klaim Tidak Ada Kelangkaan Stok 

“Penyesuaian pola tanam jadi kunci untuk menekan potensi gagal panen di tengah kemarau panjang,” ujar Dedi.

BPBD juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang cenderung meningkat saat musim kemarau ekstrem.

Koordinasi dengan dinas pemadam kebakaran dan Perhutani diperkuat guna memastikan respons cepat jika terjadi kebakaran di wilayah rawan.

“Kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan juga kami tingkatkan, karena risikonya akan ikut melonjak saat kondisi kering ekstrem,” katanya.

Selain langkah teknis, BPBD juga akan menggencarkan edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan air secara bijak serta peningkatan kesadaran terhadap bahaya kebakaran.

Leave a Comment