HOLOPIS.COM, JAKARTA – Krisis kapasitas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang mendorong Pemerintah Kota Jakarta Timur mengambil kebijakan. Upaya itu dengan perkuat pemilahan sampah langsung dari sumber, yakni rumah tangga.
Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, mengatakan pengurangan volume sampah harus dimulai dari level paling dasar agar beban di Bantargebang tak semakin parah.
– Advertisement –
“Pemerintah pun mendorong masyarakat untuk mulai mengurangi volume sampah serta melakukan pemilahan sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga untuk mengatur pembuangan di TPST Bantargebang,” kata Munjirin di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Selasa, (7/4/2026).
Sebagai langkah konkret, Pemkot Jaktim menggandeng Pusat Daur Ulang Plastik Ciracas untuk mengelola sampah anorganik hasil pemilahan warga. Kolaborasi ini diperkuat dengan optimalisasi peran Satuan Tugas (Satgas) Bank Sampah di tiap kelurahan.
– Advertisement –
Satgas yang dibentuk melalui Surat Edaran Wali Kota Nomor e-0005/SE/2026 itu bertugas mengoordinasikan pengiriman sampah anorganik dari Bank Sampah Unit ke PDUP Ciracas, sekaligus melakukan pelaporan melalui sistem daring.
Selain itu, Pemkot Jaktim juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Suku Dinas Lingkungan Hidup, camat, lurah, hingga pihak swasta untuk memastikan kebijakan berjalan efektif.
Dia bilang Pemkot Jaktim juga sudah berkomitmen untuk memperkecil volume sampah dan menyelesaikannya di sumber sesuai aturan.
“Hari ini saya kumpulkan seluruh jajaran terkait, termasuk dari Dinas Lingkungan Hidup dan pihak swasta yang bekerja sama dalam penanganan sampah anorganik,” jelas Munjirin.
Saat ini, lima kecamatan di Jakarta Timur yakni Cipayung, Ciracas, Kramat Jati, Pasar Rebo, dan Makasar sudah terintegrasi dengan sistem Bank Sampah Induk Ciracas sebagai pusat penampungan sampah anorganik hasil pemilahan warga.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar Pemprov DKI menyusul arahan Gubernur Pramono Anung. Arahan itu terkait pembatasan pembuangan sampah ke Bantargebang yang kini telah melampaui kapasitas.
Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga bergerak cepat menormalkan pengangkutan sampah, terutama setelah lonjakan volume pascaarus balik Lebaran.
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menuturkan pihaknya bekerja maksimal agar distribusi sampah tetap terkendali. Asep mengatakan pihaknya berkomitmen percepat penanganan sampah di dalam kota agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga.
“Seluruh jajaran DLH terus bekerja maksimal agar kondisi segera pulih dan pelayanan pengangkutan sampah tetap berjalan optimal,” kata Asep di Jakarta, Kamis (2/4).
Untuk mengurai antrean dan kepadatan truk di Bantargebang, DLH menerapkan sistem pengaturan waktu pengangkutan (shifting), tanpa membatasi kuota pengiriman. Skema ini dirancang agar waktu tunggu truk tetap terkendali dan tidak melebihi tiga jam.
– Advertisement –