HOLOPIS.COM, JAKARTA – Konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran memasuki fase yang semakin berbahaya. Serangan terhadap infrastruktur vital kini menjadi titik eskalasi baru.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengakui bertanggung jawab atas hancurnya jembatan terbesar di Iran.
– Advertisement –
Jembatan gantung setinggi 136 meter yang menghubungkan Teheran dan Karaj itu runtuh dramatis setelah dihantam serangan. Infrastruktur senilai 400 juta dolar AS tersebut ambruk di tengah kepulan asap hitam, menandai pukulan besar terhadap konektivitas dan mobilitas di wilayah tersebut.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya delapan orang tewas dan 95 lainnya luka-luka akibat insiden tersebut. Bagian tengah jembatan disebut menjadi target utama, dengan kerusakan parah yang membuatnya tidak lagi dapat digunakan.
– Advertisement –
“Jembatan terbesar di Iran runtuh, tidak akan pernah digunakan lagi,” tulis Trump di Truth Social dikutip pada Jumat, (3/4/2026).
Trump juga mengancam akan ada lebih banyak lagi yang akan terjadi jika kesepakatan tidak tercapai.
Pernyataan itu muncul hanya sehari setelah Trump melontarkan ancaman keras untuk membombardir Iran hingga kembali ke zaman batu. Ancaman apabila negosiasi tidak membuahkan hasil.
Dalam pidato yang disiarkan dari Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa operasi militer yang dimulai pada 28 Februari bersama Israel disebutnya sebagai keberhasilan yang “hampir selesai”. Namun, di saat yang sama, ia kembali meningkatkan tekanan dengan ancaman baru terhadap infrastruktur energi Iran.
“Kita akan menyerang setiap pembangkit listrik mereka dengan sangat keras dan mungkin secara bersamaan,” katanya.
Infrastruktur Jadi Target
Serangan terhadap jembatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian operasi militer yang lebih luas. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah target strategis di Iran dilaporkan dihantam, termasuk pangkalan rudal di Isfahan.
Rekaman serangan di kota tersebut memperlihatkan ledakan besar dan kobaran api yang mengindikasikan skala serangan signifikan. Isfahan juga disebut sebagai lokasi penyimpanan uranium yang diperkaya hingga 60 persen, memicu kekhawatiran global terkait potensi eskalasi nuklir.
Di tengah situasi tersebut, muncul spekulasi bahwa AS mempertimbangkan operasi berisiko tinggi untuk merebut material radioaktif dari fasilitas bawah tanah Iran. Namun, Trump merespons santai spekulasi itu dengan menyatakan material tersebut terkubur sangat dalam. “Saya tidak peduli,” kata ujar Trump.
Situasi semakin kompleks karena terbatasnya akses informasi dari Iran. Hal itu di mana jaringan internet dilaporkan dimatikan oleh otoritas setempat
Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap tidak akan mundur. Juru bicara markas militer pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan bahwa serangan balasan akan semakin besar.
Kata dia, perang akan berlanjut hingga musuh Iran mengalami penyesalan dan penyerahan permanen.
Sementara itu, dampak konflik terhadap warga sipil semakin mengkhawatirkan. Laporan organisasi kemanusiaan internasional menyebutkan lebih dari 15.000 serangan bom telah terjadi sejak awal perang.
Sedikitnya 1.900 orang dilaporkan tewas dan sekitar 20.000 lainnya luka-luka di Iran, menurut estimasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional.
Ketegangan yang terus meningkat mulai berdampak pada stabilitas global. Harga minyak dunia melonjak hingga 7 persen per barel menjadi 108 dolar AS, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap konflik berkepanjangan.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengeluarkan peringatan keras atas situasi tersebut.
Ia menilai dunia saat ini berada di ambang perang yang lebih luas dengan konsekuensi global yang berpotensi sangat merusak. Guterres juga menyerukan penghentian segera aksi militer.
Dengan eskalasi yang terus meningkat dan retorika yang semakin tajam, konflik ini kini tak lagi sekadar perang regional. Tapi, juga melainkan ancaman nyata bagi stabilitas dunia.
– Advertisement –