HOLOPIS.COM, JAKARTA – Israel pada Kamis (9/4) memperluas perintah evakuasi di wilayah pinggiran selatan Beirut, Lebanon. Kebijakan tersebut mencakup sejumlah lokasi penting, termasuk rumah sakit, kamp pengungsi, hingga kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Badan kemanusiaan PBB, United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs, menyebut area yang terdampak meliputi dua kamp pengungsi Palestina serta 13 tempat penampungan kolektif yang menampung lebih dari 6.000 orang. Selain itu, kantor badan PBB untuk pengungsi Palestina dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat nasional maupun internasional juga masuk dalam zona evakuasi.
– Advertisement –
Rumah Sakit Pemerintah Rafik Hariri, yang merupakan fasilitas kesehatan umum terbesar di Lebanon, turut termasuk dalam wilayah yang harus dikosongkan. Kondisi ini menambah tekanan pada layanan kesehatan yang sudah kewalahan akibat meningkatnya jumlah korban.
“Perintah evakuasi tersebut juga mencakup lebih dari 20 lokasi yang digunakan oleh mitra kemanusiaan kami untuk memberikan bantuan dan layanan kepada orang-orang yang membutuhkan,” kata OCHA, dikutip Holopis.com, Jum’at (10/4).
– Advertisement –
Situasi semakin memburuk setelah serangkaian serangan udara Israel pada Rabu (8/4) yang menghantam Beirut, Lembah Bekaa, dan wilayah Lebanon selatan. Otoritas setempat melaporkan lebih dari 200 orang tewas dan lebih dari 1.000 lainnya mengalami luka-luka.
OCHA juga melaporkan bahwa bendera di gedung pemerintahan dan kantor PBB dikibarkan setengah tiang sebagai bentuk duka. Sementara itu, banyak korban masih diduga terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Kantor PBB untuk Hak Asasi Manusia menggambarkan salah satu lokasi serangan di Beirut sebagai kondisi yang sangat memprihatinkan. Tim di lapangan menemukan banyak jenazah di antara puing-puing bangunan yang hancur.
Serangan dilaporkan terus berlanjut hingga malam hari dan berlanjut pada Kamis. Wilayah pinggiran selatan Beirut kembali menjadi sasaran serangan udara.
“Laporan mengenai hancurnya jembatan pesisir Qasmiyeh di Lebanon selatan kian mengisolasi wilayah-wilayah di selatan Sungai Litani, sehingga membatasi pergerakan penduduk dan akses bantuan kemanusiaan bagi sedikitnya 106.000 orang,” ujar OCHA.
Kondisi ini dinilai semakin memperparah krisis kemanusiaan di Lebanon, terutama bagi warga sipil yang terdampak langsung konflik.
– Advertisement –