HOLOPIS.COM, JAKARTA – Seorang komandan tinggi Iran memperingatkan bahwa setiap serangan dari Amerika Serikat (AS) atau Israel terhadap infrastruktur negaranya akan dibalas keras. Respons tersebut disebut akan berupa serangan “dahsyat dan berkelanjutan” yang menargetkan aset militer AS di Asia Barat serta infrastruktur Israel.
Peringatan itu disampaikan oleh Ali Abdollahi, panglima Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran, pada Sabtu (4/4). Pernyataan tersebut muncul menjelang berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan oleh Donald Trump terkait Selat Hormuz, yang dijadwalkan berakhir pada Senin (6/4).
– Advertisement –
Dalam pernyataannya, Abdollahi menilai ancaman dari pihak AS sebagai langkah yang dipenuhi kepanikan. Ia juga menyebut peringatan tersebut muncul setelah serangkaian kegagalan yang dialami pihak lawan.
“Setelah menerima kekalahan beruntun, presiden AS yang agresif dan gemar berperang itu, dalam langkah yang putus asa, gugup, tidak seimbang, dan gegabah, mengancam (untuk menargetkan) infrastruktur serta aset-aset nasional Iran,” kata Abdollahi, dikutip Holopis.com (4/4).
– Advertisement –
Ia menegaskan bahwa militer Iran tidak akan ragu dalam mengambil tindakan untuk melindungi kepentingan negara. Respons tegas disebut akan diberikan jika ancaman benar-benar direalisasikan. Dia mengatakan bahwa angkatan bersenjata Iran tidak akan ragu sedetik pun untuk membela hak-hak negara dan melindungi aset nasional serta “akan menempatkan para agresor pada tempatnya.
Sementara itu, dalam unggahan di platform Truth Social, Trump kembali menegaskan peringatannya kepada Iran. Ia mengingatkan soal tenggat waktu yang telah diberikan sebelumnya.
“Ingat ketika saya memberi Iran waktu 10 hari untuk MENCAPAI KESEPAKATAN atau MEMBUKA SELAT HORMUZ,” tulis Trump.
Ia juga menambahkan bahwa waktu yang tersisa semakin sempit sebelum konsekuensi serius terjadi.
“Waktu hampir habis, 48 jam sebelum semua Malapetaka menimpa mereka.”
Sebelumnya, pada 21 Maret, Trump sempat mengancam akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi dalam waktu 48 jam. Namun, dua hari setelahnya, ia menunda rencana tersebut selama lima hari usai mengklaim adanya pembicaraan produktif dengan Teheran. Tenggat waktu itu kemudian kembali diperpanjang.
Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Iran bersama sekutunya kemudian melancarkan serangan balasan yang menargetkan wilayah Israel serta kepentingan AS di kawasan Timur Tengah.
– Advertisement –