HOLOPIS.COM, JAKARTA — Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Laksamana Muda TNI (Purn) Soleman Ponto, menyatakan bahwa teror, sabotase, dan infiltrasi merupakan tugas dasar intelijen. Pernyataan itu disampaikan menyusul penetapan empat anggota BAIS sebagai tersangka kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
“Ya intelijen kan pada dasarnya teroris. Tugas utamanya apa? Infiltrasi, sabotase, teror, ya tiga itu,” kata Soleman dalam podcast Madilog bersama wartawan senior Indra J Piliang, dikutip dari kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rabu, 1 April 2026.
– Advertisement –
Pernyataan itu merespons kutipan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus sebagai teroris.
Soleman mencontohkan peristiwa Usman-Harun pada 1965, dua anggota KKO (kini Marinir) yang menjalankan misi infiltrasi dan sabotase di Singapura. Ia menyebut keduanya dianggap teroris oleh Singapura, namun dipandang sebagai pahlawan di Indonesia.
– Advertisement –
“Bagi Singapura dia dianggap teroris, bagi Indonesia dia pahlawan. Ilmunya sama,” ujarnya.
Soleman menegaskan intelijen ibarat pisau yang bisa bermanfaat maupun berbahaya tergantung penggunaannya. Ia mendorong agar pembinaan personel dan tata kelola intelijen dijalankan dengan tertib agar tidak berbalik merugikan negara sendiri.
“Minimal jangan sampai kita digigit oleh pisau itu sendiri,” tegasnya.
Empat anggota Denma BAIS TNI, yakni SL (Lettu), NDP (Kapten), BHW (Lettu), dan ES (Serda) dari matra Angkatan Udara dan Angkatan Laut, sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Pomdam Jaya Guntur sejak 18 Maret 2026.
– Advertisement –