
JABAR EKSPRES – Fenomena cuaca ekstrem kembali menjadi sorotan setelah istilah Godzilla El Nino ramai diperbincangkan publik.
Meski terdengar seperti judul film monster, istilah ini merujuk pada kondisi iklim yang berpotensi membawa dampak besar, termasuk kekeringan ekstrem di Indonesia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahkan telah memberikan peringatan dini terkait potensi kemunculan fenomena ini.
Baca Juga:Tes Kepribadian! Gambar Pertama yang Dilihat Bisa Ungkap Kamu Pekerja Keras atau Mudah KewalahanOppo K15 Pro Series Resmi Rilis! HP Gaming Baterai 8.000 mAh Siap Temani Gamer Seharian
Lalu, apa sebenarnya Godzilla El Nino dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat Indonesia?
Apa Itu Godzilla El Nino?
Secara ilmiah, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian ekuator.
Kondisi ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, termasuk di Indonesia.
Namun, istilah Godzilla El Nino digunakan untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas yang sangat kuat.
Dalam kondisi ini, dampak yang ditimbulkan jauh lebih ekstrem dibandingkan El Nino biasa.
BRIN melalui kanal resminya menyebutkan bahwa El Nino kuat ini akan membuat musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang, lebih kering, dan minim hujan.
Fenomena ini diperkirakan mulai terasa sejak April 2026.
Dalam situasi tersebut, pembentukan awan hujan cenderung bergeser ke wilayah Samudra Pasifik, sehingga Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam curah hujan.
IOD Positif Perparah Dampak Kekeringan
Tidak hanya El Nino, Indonesia juga diprediksi akan menghadapi fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif secara bersamaan.
Baca Juga:Tips Road Trip Nyaman Bareng Anak: Gunakan Layanan Sewa Mobil Keluarga TRACSiapin Budget, Segini Harga Tiket Konser Avenged Sevenfold di Jakarta 2026
Kondisi ini ditandai dengan turunnya suhu permukaan laut di sekitar perairan Sumatera dan Jawa.
Akibatnya, potensi hujan di wilayah Indonesia semakin berkurang drastis.
Kombinasi antara Godzilla El Nino dan IOD positif inilah yang berpotensi memperparah musim kemarau 2026.
Menurut prediksi BRIN, fenomena ini akan berlangsung selama periode musim kemarau, yaitu mulai April hingga Oktober 2026.
Pada fase awal, khususnya April hingga Juli 2026, sebagian besar wilayah Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur diperkirakan akan mengalami kemarau kering.
Sementara itu, wilayah seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera masih berpotensi mendapatkan curah hujan yang relatif tinggi.
Dampak Godzilla El Nino di Indonesia
Dampak paling nyata dari fenomena ini adalah berkurangnya ketersediaan air.