
JABAR EKSPRES – Kenaikan harga kedelai yang membebani pengusaha tahu dan tempe di Kota Bandung diduga tak lepas dari dampak konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya di Timur Tengah.
Sejumlah pelaku usaha mengaku, lonjakan harga bahan baku terjadi seiring efek domino perang yang memicu kenaikan biaya global, mulai dari energi hingga distribusi.
Konflik tersebut diketahui mendorong kenaikan harga minyak dunia dan mengganggu rantai pasok internasional, yang kemudian berdampak pada harga komoditas impor seperti kedelai.
Baca Juga:Perkuat Ketahanan Pangan Jelang Lebaran, BULOG Bandung Salurkan Bantuan Beras dan Minyak GorengDirikan Klub Satelit di Bandung, PB Jaya Raya siap Hadirkan Atlet Berpotensi untuk Bulu Tangkis
Salah satu pengusaha sekaligus produsen tempe di Bandung, Ridwan, mengatakan saat ini harga kedelai telah mencapai sekitar Rp10.600 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp8.700 per kilogram.
“Kami beli kedelai dari sekitar Masjid Madi. Sekarang harganya sudah Rp10.600 per kilo, dan masih bisa naik,” ujarnya, Jumat (3/4).
Ia menjelaskan, kenaikan harga ini berdampak langsung pada pendapatan. Meski begitu, pihaknya belum berani menaikkan harga jual karena khawatir tidak diterima pedagang.
“Untuk harga jual, kami belum bisa menaikkan. Ada yang sudah naik Rp1.000 sampai Rp3.000, tapi kami masih menahan,” katanya.
Dari sisi produksi, pihaknya juga harus menyesuaikan dengan permintaan yang belum sepenuhnya pulih pasca Lebaran.
“Kalau pesanan banyak, produksi ditambah. Kalau sedikit ya dikurangi. Sekarang permintaan masih menurun,” jelasnya.
Keluhan serupa disampaikan Yusuf, pengusaha tahu di Bandung. Ia menyebut harga tahu mulai naik akibat mahalnya bahan baku.
Baca Juga:Perkuat Silaturahmi, Ketua Relawan Bedas Galih Hendrawan Salurkan Paket Sembako di PameungpeukORIS Hadir di Bandung, PT SMI Ajak Masyarakat Jawa Barat Berkontribusi dalam Pembangunan Nasional
“Sekarang harga tahu naik sedikit, dari Rp60 ribu per papan jadi sekitar Rp62 ribu,” ujarnya.
Menurut Yusuf, kenaikan harga kedelai menjadi beban utama, ditambah dengan naiknya harga bahan penunjang lain seperti plastik, kunyit, dan garam.
“Bukan cuma kedelai, bahan lain juga ikut naik. Jadi biaya produksi makin besar,” katanya.
Ia memperkirakan, jika kondisi ini terus berlanjut, harga tahu masih berpotensi mengalami kenaikan, meskipun penurunannya cenderung lambat.
“Kalau naik bisa cepat, tapi kalau turun paling Rp50 per hari dan lama,” ucapnya.
Meski demikian, stok produksi masih relatif aman. Namun pelaku usaha mengaku tidak punya banyak pilihan selain menyesuaikan harga jika tekanan biaya terus meningkat.