HOLOPIS.COM, JAKARTA – Seorang ibu pengungsi asal Lebanon, Ghada Fadel, harus menjalani momen paling penting dalam hidupnya di tengah situasi penuh keterbatasan. Ia melahirkan bayi kembar laki-lakinya, Mohammad dan Mehdi, di sebuah ruang kelas yang kini difungsikan sebagai tempat penampungan di Universitas Lebanon, Sidon.
Fadel sebelumnya tinggal di wilayah perbatasan selatan, Adshit al-Qusayr. Saat masih mengandung, ia terpaksa meninggalkan rumahnya secara mendadak setelah mendapat peringatan akan adanya serangan. Rumah yang telah ia siapkan dengan penuh harapan untuk menyambut kelahiran kedua bayinya pun harus ditinggalkan begitu saja.
– Advertisement –
Beberapa pekan setelah mengungsi, Fadel melahirkan secara prematur dalam kondisi serba terbatas. Ia kini merawat kedua bayinya di atas kasur tipis, berbagi ruang sempit bersama keluarga-keluarga pengungsi lainnya.
“Pada 2 Maret, saya meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun karena tentara Israel menelepon suami saya dan memerintahkan kami untuk mengungsi. Saya tidak membawa pakaian untuk bayi atau untuk kami. Kami pergi, lalu rumah itu diserang,” ujar Ghada Fadel, dikutip Holopis.com, Jum’at (17/4).
– Advertisement –
Fadel harus meninggalkan rumah yang telah ia siapkan untuk menyambut kelahiran bayi kembarnya. Ia mengungsi dalam kondisi hamil, tanpa membawa perlengkapan dasar, dan kini tinggal di ruang kelas yang dialihfungsikan menjadi tempat penampungan bersama keluarga lainnya.
“Bayi-bayi saya tidak tidur di ranjang yang sudah saya siapkan, juga tidak memakai pakaian yang sudah saya persiapkan. Kami mengungsi ke Universitas Lebanon di Sidon, dan saya melahirkan di bulan kedelapan karena kondisi kesehatan yang sulit,” lanjutnya.
Kini, kehidupan sehari-hari Fadel dipenuhi tantangan. Ia harus berbagi persediaan makanan yang terbatas bersama tujuh keluarga lain dalam satu ruang kelas. Kebutuhan dasar seperti susu formula, popok, hingga selimut hangat menjadi hal yang sulit didapatkan.
Sekadar informasi, Kementerian Kesehatan Publik Lebanon mencatat lebih dari 2.100 orang tewas dan lebih dari 6.900 lainnya terluka sejak 2 Maret. Konflik yang terus berlangsung juga telah memaksa lebih dari 1,2 juta warga meninggalkan tempat tinggal mereka.
– Advertisement –