Puan Maharani Sarankan UMKM Pakai Daun, Warganet: Plastik Mahal Bukan Dijawab Daun Dong!

HOLOPIS.COM, Jakarta – Puan Maharani sarankan UMKM pakai daun sebagai pengganti plastik mahal, warganet langsung ramai kritik pedas di medsos.

Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kenaikan harga plastik yang disebut melonjak tajam hingga 30–80 persen sejak awal 2026.

– Advertisement –

Kenaikan ini dinilai mulai memberi tekanan serius pada pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), khususnya sektor makanan dan minuman yang masih bergantung pada kemasan sekali pakai dalam operasional harian mereka.

Dalam pernyataan yang dikutip konferensi pers Rabu (15/4), Puan menyebut kondisi ini bisa menjadi momentum untuk kembali menghidupkan penggunaan bahan kemasan alami yang lebih ramah lingkungan, seperti daun pisang dan daun jati.

– Advertisement –

Ia menilai, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah lama mengenal dan menggunakan kemasan berbasis bahan alami sebelum dominasi plastik modern masuk ke kehidupan sehari-hari.

Tradisi tersebut, menurutnya, bukan hanya bagian dari budaya, tetapi juga bisa menjadi solusi alternatif di tengah tekanan harga bahan kemasan berbasis industri.

“Penggunaan kemasan dari bahan alami seperti daun bukan hal baru di Indonesia. Ini sudah menjadi bagian dari kearifan lokal yang bisa kembali dimanfaatkan, terutama untuk mendukung UMKM sekaligus mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai,” ujar Puan dalam keterangannya.

Puan juga menambahkan bahwa penggunaan kemasan organik tidak hanya memiliki nilai lingkungan, tetapi juga bisa memperkuat identitas produk lokal.

Dalam beberapa kasus, makanan tradisional justru dianggap lebih menarik karena dikemas dengan daun yang memberikan aroma khas dan kesan alami.

Namun, pernyataan tersebut tidak serta-merta disambut positif di ruang publik.

Dalam hitungan jam setelah pernyataan itu beredar, media sosial langsung dipenuhi berbagai tanggapan kritis dari warganet yang menilai solusi tersebut tidak menyentuh akar persoalan yang dihadapi pelaku usaha kecil.

Banyak pengguna platform X (dulu Twitter) menilai bahwa kenaikan harga plastik adalah persoalan rantai pasok industri dan biaya produksi global, bukan sekadar isu gaya hidup yang bisa dijawab dengan kembali ke cara tradisional.

Akun @BosPurwa misalnya, menilai bahwa pendekatan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan industri yang kompleks.

“Kok masalah industri diselesaikan dengan solusi dapur. Krisis supply chain dijawab pakai daun. Lucu sih, tapi yang nanggung UMKM, bukan yang ngomong,” tulisnya.

Nada kritik juga muncul dari akun lain, @iyuskapuk, yang menyoroti ketidakcocokan antara solusi kemasan daun dengan realitas aktivitas ekonomi modern di perkotaan.

“Beli minyak nggak bisa pakai daun. Ke pasar beli kebutuhan sehari-hari juga nggak mungkin dibungkus daun. Warteg, warung Padang, sampai jajanan kaki lima tetap butuh plastik. Terus solusinya apa dari pemerintah?” tulisnya.

Sementara itu, akun @Wuchink189 menyoroti keterbatasan teknis penggunaan daun dalam industri makanan minuman, terutama untuk produk basah atau berkuah.

“Kalau makanan kering mungkin masih bisa, tapi kalau makanan berkuah atau minuman kayak es teh dan es buah gimana? Di kota juga nggak semua daerah punya akses daun jati atau daun pisang yang layak pakai,” ujarnya.

Dalam praktiknya, kemasan plastik dinilai lebih efisien untuk pengiriman jarak jauh, menjaga kualitas makanan tetap higienis, serta memenuhi ekspektasi konsumen urban yang semakin tinggi terhadap kebersihan produk.

– Advertisement –

Leave a Comment