HOLOPIS.COM, JAKARTA – Leaderless group atau kelompok tanpa pemimpin kini menjadi tantangan serius bagi intelijen nasional karena sulit dideteksi, tidak memiliki pola komando, dan bergerak secara spontan di luar jangkauan pendekatan intelijen konvensional.
Pandangan ini dijelaskan oleh Dr. Stanislaus Riyanta, Dosen Program Studi Kajian Ketahanan Nasional Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia (PKN SPPB UI), yang menyoroti perubahan karakter ancaman dalam dinamika sosial dan keamanan kontemporer.
– Advertisement –
“Akhirnya, saya menemukan sebuah penjelasan dalam jurnal yang menyebutkan adanya ancaman spontan. Dijelaskan bahwa intelijen biasanya terbiasa menghadapi ancaman dari kelompok yang memiliki pemimpin. Namun, ketika ancaman berasal dari leaderless group atau kelompok tanpa pemimpin, maka intelijen sering kali kesulitan untuk mendeteksi dan mencegahnya,” ujar Stanislaus dikutip Holopis.com dalam Seminar Intelijen bertajuk Tata Kelola Intelijen dalam Menghadapi Ketidakpastian Geopolitik dan Ancaman Asimetris, Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (15/4).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ancaman saat ini tidak selalu terorganisir. Justru, sifat spontan dan tanpa struktur inilah yang membuat kelompok leaderless menjadi lebih sulit diprediksi. Mereka tidak memiliki rantai komando, tidak ada figur sentral, dan bergerak berdasarkan emosi kolektif yang dapat berubah dengan cepat.
– Advertisement –
Kondisi ini tercermin jelas di lapangan. Dalam dinamika kerusuhan, kelompok tanpa pemimpin justru menjadi aktor dominan dibandingkan kelompok terorganisir.
“Saya kemudian mengingat situasi di lapangan saat itu. Kelompok yang dominan justru kelompok-kelompok tanpa pemimpin, seperti kelompok konvoi atau kelompok STM, yang tidak memiliki struktur kepemimpinan yang jelas. Hal ini membuat mereka sulit dideteksi dan dicegah. Sementara itu, kelompok yang memiliki struktur jelas seperti mahasiswa atau buruh, yang memiliki ketua, justru lebih mudah dipantau oleh intelijen,” ujarnya.
Fenomena ini memperlihatkan paradoks dalam kerja intelijen. Kelompok yang lebih terstruktur justru lebih mudah diawasi, sementara kelompok yang cair dan tidak terorganisir menjadi tantangan utama. Ini menandakan bahwa pendekatan berbasis hierarki tidak lagi cukup untuk menghadapi ancaman kontemporer.
Lebih jauh lagi, leaderless group tidak hanya berbahaya karena sifatnya yang spontan, tetapi juga karena potensinya untuk dimanfaatkan oleh aktor tertentu. Dalam konteks ini, ancaman bisa menjadi lebih besar karena adanya pihak yang mengarahkan tanpa terlihat secara langsung. Sebagaimana disampaikan.
“Ke depan, kelompok leaderless ini akan menjadi objek penting, terutama jika ada aktor yang memanfaatkannya untuk menciptakan ancaman. Oleh karena itu, intelijen harus terus memperbarui informasi dan pengetahuan. Kita harus menyadari bahwa ancaman ke depan bisa diciptakan oleh kelompok tanpa pemimpin, yang cenderung bergerak secara emosional dan spontan, sehingga sulit dicegah,” ucapnya.
Menurut Stanislaus, kondisi ini menuntut perubahan cara pandang dalam kerja intelijen. Tidak cukup hanya mengandalkan pemetaan organisasi formal, tetapi juga harus mampu membaca dinamika sosial yang cair dan tidak terstruktur.
Dengan karakteristik seperti itu, pendekatan konvensional jelas tidak memadai. Diperlukan strategi baru yang lebih adaptif dan proaktif. Salah satu gagasan yang muncul adalah pentingnya deteksi dini serta upaya membangun struktur dalam kelompok tersebut.
“Lalu bagaimana caranya? Salah satu pendekatannya adalah dengan melakukan deteksi lebih dini terhadap kelompok-kelompok tersebut. Jika memungkinkan, perlu diciptakan struktur atau kepemimpinan di dalamnya agar lebih mudah dikoordinasikan dan dikendalikan,” ungkapnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa intelijen tidak hanya bersifat pasif, tetapi juga aktif dalam membentuk kondisi yang lebih terkendali. Bahkan, peran intelijen dapat melampaui pengamatan, masuk ke ranah operasional untuk menciptakan keteraturan dalam situasi yang awalnya tidak terstruktur.
“Tugas intelijen bukan hanya mencatat atau mengamati, tetapi juga melakukan operasi yang memungkinkan terciptanya pemimpin dalam kelompok-kelompok tersebut, sehingga koordinasi menjadi lebih mudah,” tambahnya.
Namun demikian, kompleksitas ancaman leaderless group tidak hanya terletak pada strukturnya yang tidak ada, tetapi juga pada dinamika pergerakannya yang sangat cepat, terutama di era digital. Respons yang muncul sering kali bukan koordinasi, melainkan penyebaran informasi secara masif dalam waktu singkat.
Kondisi ini semakin memperumit situasi, karena eskalasi dapat terjadi dalam hitungan menit tanpa kendali yang jelas. Dalam situasi seperti ini, kehadiran intelijen di dalam kelompok menjadi krusial.
“Misalnya, muncul pertanyaan, mengapa ada anggota intelijen yang terlihat berada di antara kelompok yang berhadapan dengan aparat? Perlu dipahami bahwa intelijen memang berada di berbagai tempat, termasuk di dalam kelompok yang berpotensi menjadi ancaman. Ketika berada di dalam kelompok tersebut, mereka harus berperilaku seperti bagian dari kelompok itu,” pungkasnya.
– Advertisement –