Tekanan Harga Kedelai, Produsen Tahu-Tempe Padalarang Pilih Bertahan Demi Pelanggan – jabarekspres.com

Tekanan Harga Kedelai, Produsen Tahu-Tempe Padalarang Pilih Bertahan Demi Pelanggan – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Di tengah fluktuasi harga kedelai, produsen tahu dan tempe di Padalarang berupaya bertahan tanpa menaikkan harga jual ke konsumen.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para pelaku usaha di Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang harus menanggung kenaikan biaya produksi akibat mahalnya bahan baku utama.

Salah seorang produsen, Budi (36), mengaku kenaikan harga kedelai berdampak signifikan terhadap modal usaha yang ia keluarkan setiap hari.

Baca Juga:Berawal dari Nongkrong Pemuda, Polisi Bongkar Peredaran Obat Keras di BogorProyek PJU Rp32,7 Miliar di Narogong Belum Optimal, Masih Jadi PR Pemprov Jabar

“Setiap kenaikan Rp1.000 per kilogram itu dampaknya besar, karena kami beli dalam hitungan ton. Otomatis biaya produksi ikut naik,” ujarnya saat ditemui di Kampung Sukamulya, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, pembelian kedelai dalam jumlah besar membuat setiap perubahan harga sangat terasa bagi kelangsungan usaha.

Ia menambahkan, sebagai pelaku usaha kecil, menjaga kestabilan harga jual bukan perkara mudah di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.

“Kalau harga bahan naik terus, kami dihadapkan pada pilihan sulit, antara menaikkan harga atau mengurangi keuntungan. Tapi kami tetap berusaha bertahan agar pelanggan tidak terbebani,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, sebelumnya harga kedelai berada di kisaran Rp10.200 per kilogram, sebelum kemudian mengalami kenaikan sekitar Rp1.000.

Bahkan dalam beberapa waktu terakhir, harga kedelai sempat menyentuh angka Rp14.000 per kilogram.

Meski harga mulai sedikit stabil, tekanan tetap dirasakan terutama oleh pelaku usaha kecil di tingkat pengecer.

Baca Juga:Pemkab Bogor Tertibkan Anak Jalanan, Mayoritas Pendatang Akan Dipulangkan ke KeluargaPolisi Gagalkan Peredaran Obat Keras Ilegal di Klapanunggal, Ribuan Pil Disita

Selain kenaikan kedelai, biaya tambahan juga datang dari harga plastik kemasan yang ikut mengalami kenaikan.

“Penjual eceran lebih terasa, karena selain bahan baku naik, kemasan plastik juga ikut mahal,” katanya.

Kendati demikian, hingga saat ini para produsen belum menaikkan harga tahu dan tempe yang dijual ke masyarakat.

Budi menyebut, penyesuaian harga biasanya dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dalam paguyuban agar tetap menjaga keseimbangan pasar.

“Kalau mau naik, biasanya harus serentak. Tapi sampai sekarang belum ada keputusan untuk menaikkan harga,” jelasnya.

Dalam sehari, ia mengolah sekitar 500 kilogram kedelai untuk menghasilkan masing-masing 250 kilogram tahu dan tempe.

Leave a Comment