HOLOPIS.COM, JAKARTA – Hari ASMR diperingati setiap tanggal 9 April sebagai momen untuk mengenal lebih dekat fenomena yang kini populer di berbagai platform digital. Istilah ASMR sendiri merujuk pada sensasi rileks berupa kesemutan yang biasanya dimulai dari kepala lalu menjalar ke leher hingga punggung.
Fenomena ini awalnya tidak dikenal secara luas seperti sekarang. ASMR berkembang dari pengalaman personal yang dibagikan individu di internet, sebelum akhirnya menjadi tren global yang digemari banyak orang.
– Advertisement –
Awal Mula Istilah ASMR
Istilah ASMR mulai diperkenalkan pada 2010 oleh Jennifer Allen melalui forum online. Saat itu, banyak orang mencoba mencari istilah yang tepat untuk menggambarkan sensasi unik yang mereka rasakan.
Allen kemudian mengusulkan nama autonomous sensory meridian response. Ia memilih istilah tersebut karena dianggap lebih netral, ilmiah, dan tidak mengarah pada makna yang sensitif.
– Advertisement –
Istilah tersebut juga disusun dengan makna tertentu. Autonomous berarti terjadi secara spontan, sensory berkaitan dengan indera, meridian menggambarkan puncak sensasi, dan response merujuk pada reaksi terhadap rangsangan tertentu.
Sempat Disalahpahami
Sebelum istilah ASMR digunakan secara luas, fenomena ini sempat dikaitkan dengan hal yang bersifat seksual. Namun, sebagian besar komunitas awal menolak anggapan tersebut.
ASMR lebih dipahami sebagai sensasi relaksasi yang memberikan rasa nyaman. Banyak yang menggambarkannya sebagai pengalaman euforia ringan yang dipicu oleh suara atau visual tertentu.
Dari Pengalaman Pribadi Jadi Konten Digital
Seiring waktu, ASMR berkembang menjadi bentuk konten audiovisual. Video dengan suara lembut, bisikan, hingga suara benda tertentu mulai banyak dibuat untuk memicu sensasi tersebut.
Platform seperti YouTube kemudian menjadi tempat berkembangnya komunitas ASMR. Konten ini digunakan oleh banyak orang untuk membantu relaksasi, tidur, hingga mengurangi stres.
Diperingati Setiap 9 April
Tanggal 9 April kemudian diperingati sebagai Hari ASMR, sebagai bentuk apresiasi terhadap fenomena ini. Momen ini juga digunakan untuk meningkatkan kesadaran bahwa ASMR bukan sekadar tren, tetapi pengalaman sensorik yang dirasakan banyak orang.
Sekadar informasi, ASMR kini telah menjadi bagian dari budaya digital global. Meski bersifat subjektif dan tidak semua orang merasakannya, fenomena ini terus berkembang dan menarik perhatian di berbagai kalangan.
– Advertisement –