Iran Siap Balas Keras, Gencatan Senjata Bisa Buyar Usai Serangan Brutal Israel ke Lebanon

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gencatan senjata yang baru seumur jagung terancam buyar setelah Iran mengeluarkan peringatan keras setelah serangan besar-besaran Israel ke Lebanon. Bagi Teheran, kebrutalan Israel menyerang Lebanon sebagai pelanggaran gencatan senjata sementara yang baru saja disepakati dengan Amerika Serikat (AS).

Situasi ini memunculkan ancaman eskalasi konflik yang lebih luas. Bahkan, bisa menggagalkan diplomasi yang baru berjalan hitungan jam.

– Advertisement –

Dari laporan The Express Tribune, gencatan senjata sementara antara Iran dan AS yang dimediasi oleh Pakistan semestinya jadi titik awal meredakan ketegangan kawasan. Namun, harapan itu terancam sirna.

Hanya beberapa jam setelah kesepakatan berlaku, zionis Israel malah melancarkan serangan besar ke wilayah Lebanon. Sejumlah wilayah yang disasar Israel di Lebanon merupakan basis kelompok Hizbullah, sekutu utama Iran. Sebelum gencatan senjata AS-Iran, Hizbullah sudah menghentikan serangan ke wilayah Israel.

– Advertisement –

Serangan Israel ke Lebanon terbaru dilaporkan sebagai yang paling mematikan sejak konflik terbaru pecah. Hal itu dilihat dari jumlah korban jiwa yang signifikan.

Berdasarkan laporan Al Jazeera yang mengutip Kementerian Kesehatan Lebanon, sedikitnya 89 orang tewas dan lebih dari 700 lainnya mengalami luka-luka imbas serangan Israel.

Angka ini mempertegas skala kekerasan yang terjadi, sekaligus memicu kekhawatiran global atas memburuknya situasi di kawasan.

Merespons kondisi ini, pasukan elite Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) langsung mengeluarkan pernyataan keras.

“Sebagai tanggapan atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel di Lebanon, Iran sedang mempersiapkan pembalasan berat terhadap rezim Israel,” demikian pernyataan IRGC dikutip pada Kamis, (9/4/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam atas tindakan yang dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan yang ada.

Ketegangan meningkat setelah pejabat militer Iran menyamakan serangan terhadap Hizbullah sebagai serangan langsung ke Iran.

Komandan Angkatan Udara IRGC, Majid Mousavi, menegaskan sikap tersebut. Ia bilang serangan ke Hizbullah sama dengan serangan terhadap Iran. Kata dia, IRGC sedang mempersiapkan respons keras terhadap kejahatan brutal yang dilakukan Israel.

Sebagai langkah awal, Iran kembali menghentikan lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Area itu merupakan jalur vital bagi distribusi energi dunia.

Langkah ini bukan hanya berdampak pada Israel. Tapi, juga berpotensi mengguncang pasar energi global dan memperburuk ketegangan internasional.

Media Iran, Tasnim News Agency, mengutip sumber anonim yang menyebut Iran siap menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata jika serangan Israel terus berlanjut.

Dalam pernyataan terpisah, IRGC mengecam keras serangan Israel tersebut. Mereka menyebutnya sebagai ‘pembantaian brutal’ di Beirut. IRGC memperingatkan konsekuensi serius jika agresi tidak segera dihentikan.

“Rezim Zionis, yang bersifat seperti serigala, dengan kebrutalan yang tertanam di dalamnya dan pembunuhan orang-orang tak berdosa, anak-anak, dan perempuan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitasnya, telah memulai pembantaian brutal di Beirut,” kata IRGC.

Lebih lanjut, IRGC mengeluarkan ultimatum tegas kepada AS dan mitranya, rezim Zionis Israel yang kejam.

“Jika agresi terhadap Lebanon tercinta tidak segera dihentikan, kami akan memenuhi tugas kami dan memberikan tanggapan yang akan menimbulkan penyesalan kepada para agresor jahat di kawasan ini,” lanjut pernyataan IRGC.

– Advertisement –

Leave a Comment