
JABAR EKSPRES – Pagi itu, sebuah ruangan di Mapolsek Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi saksi runtuhnya penantian panjang.
Seorang pria paruh baya berdiri terpaku, sebelum akhirnya air matanya pecah saat sosok yang ia rindukan selama 18 tahun benar-benar berada di hadapannya.
Tak ada kalimat pembuka. Hanya tatapan yang saling mengunci, sebelum perlahan berubah menjadi pelukan erat yang tak ingin dilepaskan. Di sanalah, waktu seakan berhenti memberi ruang bagi rindu yang selama ini terpendam untuk menemukan jalannya.
Baca Juga:Dampak Hujan Angin di Cipeundeuy KBB Rusak Belasan Rumah, Satu Warga Tersambar PetirJaga Daya Produksi, Petani di Cipeundeuy Panen Ribuan Ton Jagung Hibrida
Sigit Priono (58), warga asal Lampung, tak kuasa menahan haru saat berhadapan dengan anaknya, Hendrawan (36). Sosok yang selama ini hanya hidup dalam ingatan, kini hadir nyata di hadapannya.
Bagi Hendrawan, warga Kampung Cilintung RT 01 RW 09, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, penantian itu bukan hal mudah.
Tahun demi tahun dilalui dengan doa yang tak pernah putus dan harapan yang terus ia jaga, meski kerap digerus waktu.
Pertemuan itu tak terjadi begitu saja. Ada peran dua anggota kepolisian, Aipda Wahyu Rukmana dan Aiptu Sugito Handoyo, yang menjadi jembatan pertemuan keduanya.
Dengan kepedulian dan ketelitian, keduanya menelusuri informasi hingga memastikan hubungan darah yang sempat terputus itu kembali tersambung.
Kapolsek Cipeundeuy AKP Suandi mengatakan, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa tugas kepolisian tidak semata soal penegakan hukum, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan.
“Bagi kami, ini bukan hanya soal pekerjaan. Ketika bisa membantu mempertemukan keluarga yang terpisah, ada rasa haru dan kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa diukur,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (5/4/2026).
Baca Juga:Wajibkan Biodiesel 50 Mulai Juli 2026, Bisa Hemat Subsidi?Tok! ASN Resmi WFH Setiap Jumat, KBM Dasar hingga Menengah Tatap Muka
Di sudut ruangan itu, pelukan ayah dan anak masih berlangsung. Sesekali isak tangis terdengar, seolah menjadi bahasa yang menggantikan kata-kata atas waktu yang telah hilang.
“Selama masih ada harapan, pertemuan itu akan selalu menemukan jalannya, seberapa pun lama waktu memisahkan,” pungkas Suandi. (Wit)