Di Balik Bilik Rapuh, 12 Jiwa Bertahan dalam Sempitnya Harapan – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Di sebuah sudut Dusun Babakan Cikeruh, Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, berdiri sebuah rumah kecil berukuran 3×6 meter.

Dindingnya dari bilik bambu yang telah keropos, sebagian atapnya bocor, dan rangkanya nyaris tak lagi kokoh menahan waktu. Di dalamnya, 12 orang dari tiga kepala keluarga hidup berdempetan.

Rumah itu milik Saparudin (56). Sejak tahun 2000, ia dan keluarganya bertahan di sana menjalani hari-hari dalam ruang sempit yang kian rapuh.

Baca Juga:Puncak Diserbu! Volume Kendaraan Naik 70%, Jalur Puncak-Cianjur Padat MerayapLebaran Jadi Momen Harapan Baru, 452 Warga Binaan Lapas Garut Dapat Remisi, 2 Langsung Bebas!

“Ini kebetulan kondisinya kan bilik semua, dan ini kan udah mau runtuh, di dalam itu udah keropos semua,” ujar Saparudin, Jumat (3/4/2026).

Rumah tersebut terdiri dari tiga ruangan tidur dengan ukuran yang sempit. Hanya satu ruangan yang memiliki tempat tidur, itu pun dalam kondisi lusuh. Sementara dua ruangan lainnya hanya beralaskan tikar untuk beristirahat.

Barang-barang rumah tangga hingga dagangan pun tampak berserakan. Keterbatasan ruang membuat Saparudin hanya memiliki satu lemari untuk menyimpan barang, sehingga rumah terlihat kumuh dan penuh sesak.

Saparudin menuturkan, rumah itu merupakan peninggalan ibunya. Setelah sang ibu meninggal dunia, ia tetap tinggal di sana bersama 11 anggota keluarga lainnya, yang terdiri dari adik dan keponakannya.

Rasa cemas bukan lagi hal baru baginya. Setiap kali hujan turun atau angin kencang datang di malam hari, kekhawatiran itu kembali hadir bahkan membuat mereka harus berbagi cara untuk bertahan.

“Takut lah kalau untuk tempat tinggal, takut kalau kena hujan kadang malam sama angin, jadi kurang tenang,” katanya.

Jika hujan deras mengguyur di malam hari, Saparudin bahkan harus bergantian dengan adiknya untuk tidur.

Mereka berjaga, khawatir rumah yang sudah rapuh itu tiba-tiba roboh.

Baca Juga:Pemudik Asal Bandung Meninggal Saat Singgah di Rumah Makan SumedangH+2 Lebaran, Jalur Puncak Bogor–Cianjur Terapkan One Way Akibat Lonjakan Kendaraan

Di ruang terbatas itu, privasi nyaris tak ada. Tidur pun harus saling berhimpitan.

“Namanya juga bertumpuk ya, bisa dibayangkan lah gimana rasanya. Tidurnya juga berdempetan, kayak pindang lah,” ucapnya.

Ketika hujan turun, sebagian atap rumah bocor. Air merembes masuk, menambah ketidaknyamanan yang sudah lama mereka rasakan. Namun memperbaiki bukan pilihan mudah.

Leave a Comment