BNPB Tegaskan Maluku Utara dan Sulawesi Utara Rawan Gempa

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah mengingatkan bahwa wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara bukanlah kawasan yang “aman” dari ancaman gempa besar.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto menekankan catatan historis selama ratusan tahun menunjukkan, bahwa kedua wilayah tersebut berulang kali diguncang gempa. Bahkan gempa yang terjadi berkekuatan hingga di atas magnitudo 7.

– Advertisement –

“Dari sejak tahun 1608 sampai 2026, artinya 400-500 tahun kebelakang wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara ini sering sekali terjadi gempa, bahkan skalanya rata-rata di atas 7 yang terakhir 7,6 tetapi tahun 1998 pun pernah mengalami gempa bumi sampai skalanya 7,7 skala Richter,” ujarnya dalam konferensi pers, dikutip Holopis.com, Kamis (2/4/2026).

Menurutnya, fakta tersebut menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah hingga aparat keamanan, untuk tidak lengah terhadap potensi bencana yang terus berulang.

– Advertisement –

“Artinya ini menjadi perhatian kita bersama para Kepala Daerah, TNI, Polri harus terus mengingatkan kepada masyarakatnya untuk lebih waspada dan lebih hati-hati dan meningkatkan kesiapan dan kesiapsiagaan,” tegasnya.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah pusat bersama BNPB dan BMKG terus memperkuat sistem peringatan dini dalam empat tahun terakhir. Upaya ini mencakup pemasangan teknologi deteksi di wilayah pesisir hingga pembangunan infrastruktur pendukung.

“Kami dari pemerintah pusat, BNPB dan BMKG di 4 tahun terakhir ini sudah berusaha meningkatkan kemampuan peringatan dini terkait gempa bumi tsunami sekarang baik di Sulawesi Utara dan di Maluku Utara,” lanjutnya.

Ia menjelaskan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di kedua wilayah kini telah dilengkapi perangkat peringatan dini berbasis teknologi BMKG yang terpasang di sepanjang garis pantai.

“Masing-masing BPBD sudah dilengkapi dengan alat-alat peringatan dini yang teknologi oleh BMKG di sepanjang laut atau pantai-pantai,” katanya.

Selain itu, BNPB juga membangun pusat pengendalian operasi serta sirine peringatan sebagai bagian dari sistem respons cepat saat bencana terjadi. Efektivitasnya terbukti saat gempa bermagnitudo 7,6 terjadi pada pagi hari.

“BNPB juga sudah membangun pusat pengendalian operasi dan sirine-sirine Alhamdulillah terjadinya gempa tadi pagi ini saya monitor dan laporan dari Kalaksa BBD baik Sulawesi Utara dan Maluku Utara ini sirinenya berbunyi sehingga paling tidak masyarakat bisa mendapatkan informasi awal tentang terjadinya bencana gempa bumi bahkan ada potensi tsunami,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Suharyanto menegaskan bahwa data kebencanaan akan terus diperbarui secara berkala oleh BMKG untuk memastikan akurasi informasi yang diterima publik.

“Kemudian kami juga menyampaikan kepada Bapak Menko dan Bapak Ibu sekalian itu untuk data-data tadi sudah dijelaskan oleh Bapak Kepala BMKG secara rinci dan detil. Ini tentu saja akan diperbaharui terus-menerus,” jelasnya.

Di akhir pernyataannya, BNPB mengingatkan pentingnya peran media dalam menyampaikan informasi yang tepat kepada masyarakat, terutama dalam situasi bencana.

“Sekali lagi kami mohon mengingatkan agar ini menjadi acuan utama dalam pemberitaan dalam pemberian informasi kepada masyarakat,” pungkasnya.

– Advertisement –

Leave a Comment