HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ilmu santet yang dikenal dengan sebutan cuca peruntus dipercaya mampu merusak organ dalam tubuh korban tanpa meninggalkan tanda fisik di bagian luar, sehingga kerap sulit dikenali secara kasat mata.
Kepercayaan terhadap praktik ini masih hidup di sejumlah masyarakat, khususnya yang dikaitkan dengan tradisi mistis di wilayah pedalaman Kalimantan. Dalam cerita yang beredar, korban santet ini biasanya mengalami penurunan kondisi tubuh secara bertahap tanpa diagnosis medis yang jelas.
– Advertisement –
Gejala awal yang sering disebutkan antara lain tubuh terasa lemas, nafsu makan menurun, dan gangguan tidur. Seiring waktu, kondisi korban dikisahkan semakin memburuk dengan munculnya rasa sakit pada bagian dalam tubuh, meskipun tidak ditemukan luka atau penyebab pasti dari luar.
Dalam narasi yang berkembang di masyarakat, cuca peruntus digambarkan sebagai santet yang bekerja secara perlahan dengan merusak organ vital. Korban tetap sadar dan merasakan perubahan pada tubuhnya, namun tidak mengetahui sumber penyebabnya.
– Advertisement –
Selain gangguan fisik, beberapa cerita juga menyebutkan adanya pengalaman non-medis seperti mimpi buruk atau perasaan diawasi sebelum kondisi kesehatan menurun. Hal ini semakin memperkuat anggapan bahwa gangguan tersebut berkaitan dengan hal mistis.
– Advertisement –