Dapur MBG di Desa Rancaekek Wetan Bandung Diduga Tak Punya IPAL, Warga dan Lahan Sawah Kena Dampak Limbah – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Desa Rancaekek Wetan, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung tengah menjadi sorotan.

Pasalnya, keberadaan dapur sehat MBG di RT01/RW22 Desa Rancaekek Wetan itu, diduga tidak dilengkapi dengan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL).

Oleh karenanya, limbah dari aktivitas program MBG yang berlangsung itu tak dilakukan penyaringan, alias langsung dibuang ke saluran air, sehingga berdampak kepada masyarakat dan lahan pesawahan.

Baca Juga:Pemerintah Tingkatkan Koordinasi Demi Keamanan Kapal Indonesia di Selat HormuzAnalis Sebut Ekonomi Indonesia Tahan Tekanan Global, Investor Mulai Ambil Sikap Defensif

Warga terdampak, Bobby (54) mengatakan, jika limbah yang dibuang dapur MBG ke saluran air kerap mengeluarkan aroma tak sedap.

“Sudah ada keluhan tapi tidak ada penyelesaian,” katanya kepada Jabar Ekspres, Senin (30/3).

Bobby yang huniannya berada tak jauh dari lokasi dapur MBG, tepatnya hanya terhalang satu bangunan, mengaku jika limbah yang dibuang juga berdampak terhadap lahan pertanian.

“Dari kewilayahan sudah ada pengaduan juga, tapi memang dari pihak dapurnya tidak ada perbaikan IPAL,” bebernya.

Bobby menerangkan, sejak awal pembangunan hingga berlangsungnya aktivitas dapur MBG, pihak yayasan dinilai buruk koordinasi dan komunikasinya dengan warga maupun pengurus setempat.

Bahkan, akibat limbah yang secara langsung dibuang ke saluran air akibat dugaan tak adanya IPAL di dapur MBG, membuat padi yang ditanam para petani mati, karena air limbah terserap ke area pesawahan.

“Tidak ada koordinasi, adapun yang dilakukan pihak dapur hanya memasang pipa, yang limbahnya tetap berdampak ke warga dan lahan pertanian,” terang Bobby.

Baca Juga:Bukti Daya Beli Kuat, Uang Beredar di Lebaran Capai Rp1.370 TriliunPrioritaskan Rakyat, Harga BBM Subsidi Dijaga Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global

Melalui penelusuran Jabar Ekspres, dapur MBG yang diduga tak memiliki IPAL tersebut, merupakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari Yayasan Banyuwangi Urip Sejahtera Sejati.

“Sebelum puasa dipasang pipa, akibat dari banyak keluhan warga,” ujar Bobby.

“Padi sempat pada mati dan tidak ada penggantian dari dapur,” tambahnya.

Dalam hal ini, Bobby yang juga merupakan mantan Ketua RW22 mengucapkan, permintaan supaya pihak SPPG dapat melakukan evaluasi, memperbaiki IPAL serta jalin koordinasi dengan warga dan pengurus setempat.

“Perbaiki IPAL dan pengelolaan limbah dapur. Berikut kami mempertanyakan biotank serta AMDAL dapur,” ucapnya.

Leave a Comment