
JABAR EKSPRES – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyebut tradisi Ngapungkeun Balon atau menerbangkan balon raksasa yang digelar setiap Lebaran oleh masyarakat Panawuan, Kecamatan Tarogong Kidul, memiliki daya tarik wisata berbasis kearifan lokal.
Kepala Disparbud Kabupaten Garut, Beni Yoga Gunasantika, mengatakan kegiatan tersebut merupakan potensi atraksi wisata yang unik dan menarik perhatian masyarakat.
“Kami memandang kegiatan ini sebagai potensi atraksi wisata berbasis kearifan lokal yang sangat menarik dan memiliki daya tarik kuat,” ujarnya melalui sambungan telepon di Garut, Sabtu (21/3/2026).
Baca Juga:Polisi Terapkan One Way, Kepadatan Arus Lebaran di Garut Berhasil DiuraiRidwan Kamil Minta Maaf di Hari Lebaran, Singgung Serangan Hoaks Setahun Terakhir
Ia menjelaskan, masyarakat Kampung Panawuan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, setiap tahunnya selalu menggelar tradisi menerbangkan balon berukuran raksasa di lapangan terbuka saat momentum Hari Raya Idul Fitri.
Menurutnya, tradisi tersebut menjadi wujud kegembiraan sekaligus kebersamaan warga setelah merayakan Idul Fitri, yang selalu disambut antusias, baik oleh masyarakat setempat maupun pengunjung dari luar daerah.
“Ini merupakan wujud nyata kegembiraan dan kebersamaan warga pasca-Idul Fitri. Antusiasmenya luar biasa, ini adalah ekspresi budaya yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut selama ini berjalan tertib, aman, dan tidak membahayakan, sehingga berpotensi menjadi agenda wisata tahunan yang dapat menarik wisatawan, khususnya saat musim mudik Lebaran.
“Ke depan, kami akan terus melakukan pembinaan agar kegiatan ini bisa dikemas lebih baik, lebih aman, dan menjadi agenda wisata yang membanggakan Kabupaten Garut,” tambahnya.
Balon yang diterbangkan dalam tradisi tersebut terbuat dari kertas yang dirangkai menjadi balon berukuran besar, dengan diameter mencapai 20 meter dan tinggi hingga 10 meter, meskipun banyak pula yang berukuran lebih kecil.
Tradisi Ngapungkeun Balon sendiri telah berlangsung secara turun-temurun sejak tahun 1960-an dan hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Panawuan setiap momen Lebaran.
Baca Juga:Lebaran 2026, Arus Kendaraan di Tol Cipali Melonjak hingga 65 PersenIzin Dicabut, Bandung Zoo Dipastikan Tutup Selama Libur Lebaran 2026
Pelaksanaannya pun tidak hanya di satu titik, melainkan di beberapa lokasi di kampung tersebut, dengan jumlah balon yang diterbangkan di setiap lokasi bisa lebih dari satu.