Bukan Sekadar Peran Sosial, Ini Pentingnya Bonding Ayah dan Anak dalam Islam

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Membangun ikatan batin atau bonding antara ayah dan anak sering dianggap sebagai urusan domestik yang sederhana. Namun dalam pandangan Islam yang dipahami Muhammadiyah, hubungan ayah dan anak memiliki makna yang jauh lebih mendalam karena merupakan amanah agama yang bersifat fundamental.

Anak dipandang sebagai amanat dari Allah yang memiliki hak atas pengasuhan, perlindungan, serta pengembangan potensi fisik, psikis, sosial, dan spiritualnya. Karena itu, keterlibatan ayah dalam kehidupan anak bukan sekadar peran sosial, tetapi kewajiban yang tidak dapat diabaikan. Ayah hadir sebagai pendidik, pelindung, sekaligus penopang pembentukan kepribadian anak.

– Advertisement –

Landasan Al-Qur’an tentang Tanggung Jawab Orang Tua

Hubungan ayah dan anak memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an. Allah memerintahkan orang tua untuk memiliki kekhawatiran yang konstruktif terhadap masa depan anak-anaknya. Hal ini ditegaskan dalam Surah An-Nisa ayat 9:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

– Advertisement –

“Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Ayat tersebut mengandung pesan bahwa ayah dituntut menjadi benteng dari berbagai bentuk kelemahan yang mungkin dialami anak, baik dari sisi ekonomi, mental, sosial, maupun spiritual. Kekhawatiran terhadap masa depan anak tidak berhenti pada rasa cemas, tetapi diwujudkan melalui kedekatan emosional, perhatian, serta komunikasi yang berkelanjutan.

Kehadiran Ayah dalam Aktivitas Anak

Salah satu bentuk kehadiran ayah yang paling nyata adalah keterlibatan langsung dalam aktivitas keseharian anak, termasuk menemani mereka bermain. Dalam Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah, pemenuhan hak tumbuh kembang anak ditekankan sebagai tanggung jawab bersama orang tua.

Bermain bersama anak menjadi ruang penting untuk menumbuhkan kasih sayang, kelekatan emosional, serta rasa aman. Interaksi yang hangat juga membantu membangun komunikasi dua arah sehingga anak dapat mengekspresikan perasaan dan pikirannya tanpa rasa takut.

Prinsip kasih sayang ini selaras dengan konsep mawaddah dan rahmah dalam keluarga sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Rum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Kasih sayang dalam keluarga tidak hanya berhenti pada hubungan suami istri, tetapi juga mengalir kepada anak melalui sikap lembut, keterbukaan, dan kehadiran orang tua, terutama ayah.

Menjaga Keluarga dari Kehancuran

Tanggung jawab pengasuhan orang tua juga bertujuan menjaga keluarga dari kesengsaraan dunia dan akhirat. Hal ini ditegaskan dalam Surah At-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Dalam konteks perlindungan anak, makna “neraka” juga dapat dimaknai sebagai berbagai bentuk kehancuran kehidupan, seperti kekerasan, pengabaian, perundungan, eksploitasi, hingga penyalahgunaan narkoba.

Ketika ayah absen secara emosional, anak berpotensi mencari perlindungan di luar rumah yang belum tentu aman bagi perkembangan kepribadiannya.

Komunikasi Hangat dan Pola Asuh Dialogis

Karena itu, bonding antara ayah dan anak perlu dibangun melalui komunikasi yang setara dan dialogis. Pola asuh yang terlalu kaku dan satu arah dapat membuat anak kehilangan ruang aman untuk bercerita.

Di tengah kesibukan pekerjaan, ayah tetap dituntut menyediakan waktu bagi anak agar fungsi pengasuhan tidak sepenuhnya dialihkan kepada pihak lain.

Secara filosofis, Al-Qur’an menggunakan istilah ibn untuk menyebut anak, yang berasal dari kata bana–yabni yang berarti membangun. Istilah ini memberikan isyarat bahwa anak merupakan “bangunan peradaban” yang memerlukan fondasi kuat berupa iman, akhlak, dan ilmu.

Peran ayah dalam proses ini sangat penting. Hal tersebut juga ditegaskan dalam hadis Rasulullah Saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Dari Abu Hurairah [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw. bersabda, Tidaklah manusia dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orangtuanya yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi”.

Hadis tersebut menegaskan bahwa arah perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh peran orang tua. Melalui kedekatan emosional yang dibangun dengan kasih sayang, ayah dapat menciptakan ruang aman bagi anak untuk tumbuh sesuai fitrahnya serta menghormati hak hidup, hak perlindungan, dan hak berkembang secara optimal.

– Advertisement –

Leave a Comment