HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menyayangkan pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menggelar sayembara untuk menangkap begal.
Natalius Pigai berharap apa yang disampaikan Dedi Mulyadi sebatas candaan. Jika itu sampai serius, Pigai menegaskan hal itu tidak boleh benar-benar sampai dilakukan.
“Kalau serius ya tidak boleh. Tetapi kalau guyonan enggak apa-apa. Guyonan aja. Tetapi kalau serius tidak boleh, itu bahaya,” kata Pigai dalam pernyataannya yang dikutip Holopis.com.
Ia menilai penyerahan fungsi penegakan hukum kepada warga sipil tanpa pembekalan yang memadai berpotensi melanggar etika dan membahayakan keselamatan publik.
Menurut Pigai, masyarakat yang tidak terlatih berpotensi menggunakan kekerasan saat menangkap pelaku kejahatan. Karena itu, ia mempertanyakan etika pemberian imbalan kepada warga untuk melakukan tindakan tersebut.
“Kalau sipil yang tidak terlatih mukul dong, ya? Berdarah-darah. Apa diperbolehkan kita bayar orang untuk memukul orang lain di lapangan? Tidak etis. Tetapi dugaan saya beliau guyonan, tidak serius. Semoga guyonan dan tidak serius,” tegasnya.
– Advertisement –
Diketahui, Dedi Mulyadi mengumumkan tantangan terbuka ini bagi seluruh masyarakat Jawa Barat. Fokusnya adalah melumpuhkan para pelaku kejahatan jalanan untuk kemudian diproses secara hukum oleh kepolisian.
Besaran hadiah yang disiapkan pun bervariasi, bergantung pada tingkat risiko dan aksi penangkapan yang dilakukan oleh warga di lapangan.
“Saya memberikan sayembara untuk seluruh warga Jabar yang bisa melumpuhkan maling, copet, jambret. Kami siapkan hadiah dari Rp 5 juta sampai Rp 50 juta, yang mampu melumpuhkan berbagai aksi kejahatan dan menyerahkannya kepada kepolisian dalam keadaan hidup,” ucap Dedi.