UIN Jakarta Jadi Tuan Rumah AIUA 2026, JK Dorong Integrasi Sains dan Teknologi dalam Pendidikan Islam

JAKARTA – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi tuan rumah International Seminar dan The 15th Annual General Meeting The Asian Islamic Universities Association (AIUA) 2026 yang berlangsung pada 23–25 Juni 2026. Forum internasional tersebut menjadi ajang strategis bagi perguruan tinggi Islam di Asia untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong perdamaian global, ketahanan sosial, serta pembangunan yang inklusif.

Dalam pidato utamanya, Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla menegaskan bahwa kemajuan dunia Islam tidak cukup hanya bertumpu pada penguasaan ilmu agama. Menurutnya, pendidikan Islam harus mampu mengintegrasikan sains, teknologi, dan penguatan ekonomi agar dapat menjawab tantangan zaman.

“Kekuatan umat Islam tidak akan maksimal jika hanya bertumpu pada aspek agama tanpa kemajuan teknologi dan ekonomi. Ekonomi yang kuat menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan dakwah dan pembangunan sosial,” ujar Jusuf Kalla dalam seminar yang digelar di Auditorium Harun Nasution, UIN Jakarta.

Ia menilai penguasaan teknologi dan semangat kewirausahaan harus menjadi bagian dari transformasi pendidikan tinggi Islam. Menurutnya, filosofi doa ‘Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah’ perlu dimaknai sebagai dorongan untuk meraih kemajuan dan kesejahteraan dunia sebagai bekal menuju kehidupan akhirat yang lebih baik.

Sementara itu, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Presiden AIUA, Asep Saepudin Jahar, menegaskan bahwa kampus Islam harus meninggalkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern.

Menurutnya, UIN Jakarta terus mengembangkan model pendidikan yang mengintegrasikan keilmuan Islam dengan sains, teknologi, dan kewirausahaan guna mencetak lulusan yang adaptif terhadap perkembangan global.

– Advertisement –

“Kami tidak lagi memisahkan ilmu agama dan sains. Keduanya harus saling menguatkan untuk melahirkan generasi yang religius, inovatif, moderat, dan mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan global,” kata Prof. Asep.

Ia menjelaskan, AIUA 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama antarperguruan tinggi Islam di kawasan Asia Tenggara. Lebih dari 40 perguruan tinggi dari tujuh negara, termasuk Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Singapura, dan Indonesia, turut berpartisipasi dalam forum tersebut.

Menurut Prof. Asep, asosiasi perguruan tinggi Islam itu tengah merumuskan berbagai langkah strategis untuk memperkuat diplomasi akademik dalam merespons berbagai tantangan regional, termasuk konflik, ketimpangan pembangunan, hingga isu keberlanjutan.

Dalam kesempatan yang sama, Jusuf Kalla juga menyoroti pentingnya peran pendidikan tinggi Islam dalam membangun perdamaian dunia. Ia menilai kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi konkret berbasis penguatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

“Perdamaian akan lebih mudah terwujud ketika masyarakat memiliki kesejahteraan dan kesempatan ekonomi yang baik. Karena itu, perguruan tinggi Islam harus menjadi motor penggerak lahirnya gagasan-gagasan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Selain membahas transformasi pendidikan tinggi Islam, AIUA 2026 juga menjadi ajang bagi UIN Jakarta untuk memaparkan perkembangan proses transformasi kelembagaan menuju status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).

Prof. Asep mengatakan status PTNBH akan memberikan ruang yang lebih luas bagi UIN Jakarta untuk meningkatkan kemandirian institusi, memperkuat inovasi, serta memperluas kerja sama internasional.

“PTNBH merupakan instrumen penting agar perguruan tinggi lebih lincah, mandiri, dan kompetitif. Ini sejalan dengan upaya kami menjadikan kampus sebagai pusat inovasi, teknologi, kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat,” tuturnya.

Rangkaian AIUA 2026 akan ditutup dengan pelaksanaan Sidang Umum Tahunan AIUA ke-15 pada 25 Juni 2026. Forum tersebut dijadwalkan menetapkan Rencana Strategis AIUA 2026–2028 sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi Islam dalam mewujudkan dunia yang damai, inklusif, dan berdaya saing global.

Leave a Comment