HOLOPIS.COM, JAKARTA – Aksi para suporter Jepang yang memungut sampah usai pertandingan Piala Dunia FIFA kembali menuai pujian dari dunia internasional. Namun di balik apresiasi tersebut, muncul perdebatan menarik di Jepang yang mempertanyakan apakah kebiasaan itu benar-benar mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Foto-foto penggemar Jepang yang membersihkan tribun stadion dan mengumpulkan sampah ke dalam kantong plastik kembali viral di media sosial. FIFA bahkan turut memberikan pujian atas aksi tersebut melalui unggahan di platform digital mereka.
Meski begitu, sorotan internasional itu justru memicu kritik dari sebagian warganet Jepang. Sebuah unggahan yang telah dilihat sekitar 1,9 juta kali menantang citra positif yang selama ini melekat pada aksi bersih-bersih para suporter.
“Pria Jepang termasuk yang menghabiskan waktu paling sedikit untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dibanding negara-negara lain,” tulis unggahan tersebut, dikutip Holopis.com, Minggu (21/6).
Unggahan itu kemudian menambahkan sindiran yang menjadi perbincangan luas.
“Tolong lakukan itu di rumah.”
– Advertisement –
Postingan tersebut disertai ilustrasi satir yang menggambarkan seorang suporter dengan bangga membersihkan stadion, tetapi membiarkan pekerjaan rumah ditangani oleh istri atau ibunya.
Dipuji di Stadion, Dipertanyakan di Rumah
Perdebatan tersebut menyoroti persoalan yang sudah lama menjadi perhatian di Jepang, yakni kesenjangan pembagian pekerjaan rumah tangga antara laki-laki dan perempuan.
Data Kantor Kabinet Jepang yang mengutip Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menunjukkan bahwa perempuan Jepang menghabiskan waktu 5,5 kali lebih banyak dibanding laki-laki untuk pekerjaan tak berbayar seperti membersihkan rumah, berbelanja, dan merawat anggota keluarga.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan negara-negara seperti Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, yang memiliki kesenjangan pembagian tugas rumah tangga yang lebih kecil.
Perdebatan juga semakin ramai karena sebagian pihak menilai citra Jepang sebagai negara yang sangat bersih tidak selalu terlihat di semua aspek kehidupan sehari-hari. Di sejumlah kawasan hiburan, misalnya, puntung rokok dan sampah masih kerap ditemukan berserakan setelah malam yang ramai.
Meski demikian, banyak pihak membela aksi para suporter Jepang. Mereka menilai kebiasaan membersihkan lingkungan merupakan bagian dari pendidikan sejak usia dini.
Profesor ilmu politik dan sejarah dari Universitas Sophia, Koichi Nakano, mengatakan para penggemar olahraga Jepang cenderung membawa kebiasaan yang mereka pelajari sejak sekolah ke berbagai kegiatan sosial, termasuk saat menghadiri pertandingan olahraga.
Di Jepang, siswa sekolah dasar umumnya diajarkan untuk membersihkan ruang kelas dan lingkungan sekolah mereka sendiri. Kebiasaan serupa juga kerap diterapkan di lingkungan kerja melalui tanggung jawab bersama menjaga kebersihan fasilitas umum.
Selain itu, minimnya tempat sampah umum di Jepang membuat banyak warga terbiasa membawa pulang sampah mereka sendiri daripada membuangnya sembarangan.
Namun para peneliti mengingatkan agar perilaku positif tersebut tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan berbagai persoalan sosial yang masih ada.
Barbara Holthus dari Institut Jerman untuk Kajian Jepang menilai setiap negara memiliki tantangan masing-masing sehingga tidak tepat jika Jepang dipandang sebagai masyarakat yang sempurna hanya karena aksi para suporternya di stadion.
Perdebatan itu pun terus berlangsung di media sosial. Sebagian netizen menganggap kritik tersebut relevan, sementara yang lain menilai generalisasi terhadap pria Jepang terlalu berlebihan.
Pada akhirnya, diskusi tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah aksi yang dipuji dunia justru memunculkan refleksi yang lebih dalam di dalam negeri tentang tanggung jawab sosial, baik di ruang publik maupun di rumah.